Ribuan Botol Miras Di Boven Digoel Disegel

Berita » Detail

Berita Utama
09 Dec 2019 21:45
Ribuan Botol Miras Di Boven Digoel Disegel
 
Setelah mendapatkan laporan dari masyarakat, petugas Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Merauke melakukan pengecekan lapangan terkait aktifitas yang mencurigakan di Kabupaten Boven Digoel terhadap minuman keras (Miras) ilegal.
 
Hari pertama, Selasa (3/12/2019) petugas Bea dan Cukai dibackup anggota TNI berhasil melakukan penindakan terhadap truk bermuatan miras Golongan C tanpa melengkapi dokumen pelindung. Tepatnya di Jalan Poros Trans Papua, Kampung Miri dengan barang bukti 4.416 botol Miras Golongan C.
 
Hari kedua, Rabu, (4/12/2019) penindakan Miras di gudang tanpa nama di Jalan Betop 2 Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel dengan barang bukti 1.680 botol Miras Golongan C. Pengamanan diawali ada kecurigaan dari petugas bahwa di dalam truk ada minuman beralkohol.  
 
Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Merauke, Deny Sudrajat menjelaskan, untuk minuman mengandung alkohol atau minuman keras merupakan objek Cukai yang harus dibayar cukainya baik pelunasan maupun pelengkapan pita cukai.
 
Minuman barang kena cukai khusus minuman keras, dikatakan ada tiga golongan, yakni golongan A dengan kadar alkoholnya kurang dari lima persen. Golong B lebih dari 5-20 persen dan Golongan C kadar alkoholnya lebih dari 20 persen.
 
"Yang kami tegak di lapangan kemarin adalah golongan C. Kalau golongan A berarti untuk pelunasan cukai, sedangkan B dan C adalah pelunasan dan pita cukai," terangnya di Merauke, Senin (9/12/2019).
 
Dalam kasus di atas, tindak pertama yang dilakukan pihaknya adalah mengidentifikasi miras tersebut masuk golongan apa. Kemudian, dicek lebih detail keaslian pita cukai yang sudah terpasang menggunakan alat bantu.
 
Kedua, melakukan pengawasan atas peredarannya. Khusus minuman etil alkohol yang banyak beredar di Papua, maka para distributor atau penjual eceran harus memiliki identitas pengusaha barang kena cukai berupa nomor pokok pengusaha barang kena cukai (NPPBKC).
 
Berdasarkan informasi sementara, bahwa barang bukti tersebut berasal dari Surabaya-Bali untuk dikirim ke Papua. Petugas Bea Cukai mengecek dokumen pengirimannya, tujuannya sesuai peruntukan atau tidak. Kalau tidak sesuai dokumen, berarti ada upaya tidak mengikuti prosedur yang ada. 
 
Sesuai aturan, penerima barang baik distributor maupun tempat penjualan eceran, sebelum menedistribusi maupun menerima barang, harus memiliki identitas dari Bea dan Cukai berupa nomor pokok pengusaha barang kena cukai.
 
"Kalau tidak punya, berarti dia menjual barang secara tidak resmi atau tidak diakui oleh negara. Konsekuensinya nanti ada sanksi administrasi berupa denda minimal 20 juta rupiah dan maksimal 200 juta rupiah, tergantung tingkat keseringan atau frekuensi melakukan pelanggaran," tambah Deny.
 
Seperti diketahui, Kabupaten Boven Degoel sendiri sudah punya Perda larangan pemasukan dan penjualan Miras.  Sehingga menurut Deny, kalau dilarang, tentunya distributor maupun pengecer akan susah mendapatkan rekomendasi untuk mengurus ijin NPPBKC. Dimana syarat mengurus perijinannya adalah persetujuan atau rekomendasi dari instansi terkait Pemda setempat.
 
"Kita belum memastikan identitas dan data resminya sebelum kita lakukan berita acara pemeriksaan. Sementara gudang penyimpanan kita segel."(geet)
 
 
 
 

Penulis

Kintan Rhapsudyah

staff

Berita yang berhubungan
Komentar

Komentar tidak ada

Silahkan komentar


Dapatkan berita update terbaru
Silahkan mendaftar untuk berlangganan berita, dikirim ke email anda