Atasi Dampak Limbah Ternak Ayam, PT Harvest Pulus Akan Datangkan Mesin Pemeras 

Berita » Detail

Berita Utama
17 Jan 2020 22:09
Atasi Dampak Limbah Ternak Ayam, PT Harvest Pulus Akan Datangkan Mesin Pemeras 
PT Harvest Pulus Papua sebagai pemilik perusahaan ayam petelur di Merauke akan mendatangkan mesin pemeras limbah ke lokasi perusahaan. Hal ini sebagai upaya yang terus dilakukan perusahaan dalam rangka menekan bau limbah pada proses dari kegiatan perusahaan.
 
GM PT. Harvest Pulus Papua, Ronald Stenley mengatakan, fungsi dari mesin pemeras adalah memproses limbah basah menjadi kering sehingga dapat dipakai sebagai pupuk organik yang ramah lingkungan.
 
"Kami sedang melakukan penilaian, kapasitas mesin sesuai dengan kebutuhan ternak. Apakah ukuran kecil, sedang atau besar, sehingga kami tidak salah," jelasnya dalam Konferensi Pers di salah satu rumah makan depan Bandara Merauke, Jumat (17/1/2020).
 
Berkaitan dengan SIG (Surat Ijin Gangguan), diakui sudah berakhir pada tanggal 16 Januari 2020, namun untuk selanjutnya SIG sudah tidak berlaku atau tidak digunakan lagi karena sudah tidak dipakai lagi oleh pemerintah. Maka dari SIG bermutasi ke OSS (Online Single Submission atau perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik, untuk mendapatkan NIB (Nomor Induk Berusaha) dan SIU (Surat Ijin Usaha). 
 
"PT.Harvest sudah memiliki NIB dan sudah dalam proses pengurusan SIU karena masa berlaku SIU sampai bulan Agustus 2020," jelasnya. 
 
Berkaitan dengan complain masyarakat mengenai hasil tinjauan wartawan di areal ternak belum lama ini tentang kondisi di dalam ternak, yaitu tidak tercium aroma menyengat dari limbah ayam dibenarkan Kepala Kampung Marga Mulya, Distrik Semangga, Zubaidah Alfakir saat dikonfirmasi wartawan.
 
"Memang benar, beberapa kali saya lakukan sidak ke dalam areal perusahaan tidak ada aroma menyengat. Karena, ada mesin blower yang fungsinya menghisap udara hasil pembuangan limbah ke ketinggian, itulah yang bisa saja menyebabkan bau saat dibawa angin sewaktu-waktu," kata Kepala Kampung. 
 
Terkait mesin blower tersebut, blower merupakan salah satu rangkaian dalam closed house system, fungsinya mensirkulasi udara dalam kandang.
Bilamana udara yang dikeluarkan dari dalam kandang melalui blower mempunyai aroma kandang adalah sangat wajar. 
 
Perlu diketahui bahwa bau menyengat dihasilkan oleh amonia. Sementara berat jenis amonia terhadap angin lebih ringan, jadi ketika dilepaskan pada ketinggian 6m di atas tanah, tentunya sudah tidak akan menyengat.
 
Oleh perusahaan melakukan test amonia menggunakan kertas lakmus yg diletakan tepat pada semburan angin blower. Berdasarkan test tersebut hasilnya menunjukan pada batas aman. 
 
"Bahwa ada complain dari masyarakat tentang limbah ayam, itu adalah pemberitahuan untuk kita lebih membenahi konsep pegelolaan produksi telur karena mempunyai resiko untuk menghasilkan dampak itu," ucap Tokoh Masyarakat Selatan Papua, Yohanes Gluba Gebze (JGG) yang juga hadir saat konferensi pers.
 
Dikatakan, dokumen Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) wajib dilengkapi perusahaan supaya di dalam perjalanan tidak menggangu kenyamanan warga sekitar. Pak JGG mengakui bahwa PT. Harvest Pulus Papua sudah melakukan sebagaimana ada bukti penghargaan dari instansi yang berkompeten dan menyatakan sertivikat NKV (Nomor Kontrol Veterine) dengan level I.
 
"Ini sebagai salah satu bukti, bahwa dari 9 mitra telur perusahaan telur di Merauke, Harvest Pulus Papua sudah memenuhi syarat. Saya harap delapan perusahaan lain juga bisa memenuhi ini supaya kita memiliki mitra- mitra yang menghasilkan produksi telur yang baik termasuk kesehatan lingkungan, kualitas udara dan kualitas air di sekitar perusahaan." 
 
Lanjut JGG, kebijakan pemerintah menghadirkan perusahaan telur di Merauke semata-mata punya tujuan untuk mendukung swasembada telur di Merauke dan dapat dibeli dengan harga yang ekonomis atau terjangkau. Selain itu, pemerintah inginkan Merauke menjadi kabupaten yang mandiri dari segi beras, telur, daging, ikan dan buah- buahan.
 
Menurutnya, semua potensi ini harus dikhawal dengan baik secara bersama-sama tanpa harus menerjang satu sama lain sehingga tidak mengalami dampak dari penutupan perusahaan yang sudah lama berproduksi. 
 
Untuk diketahui, perusahaan mulai berusaha sejak tahun 2009, dan investasi dilakukan pada bidang peternakan ayam petelur di Merauke. Keputusan investasi tersebut diawali oleh undangan dari Pemerintah Merauke untuk mengembangkan kedaulatan pangan dengan program MIFEE saat itu. 
 
MIFEE adalah Merauke Integrated Food and Energy Estate, dan salah satu programnya adalah swasembada telur sebagai sumber protein yang segar dan sehat. Pada tahun 2009 dan sebelumnya telur merupakan hasil produksi dari luar Merauke yang didatangkan via kapal laut. 
 
Perusahaan mendapatkan bimbingan teknis dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan secara teratur dan terus didorong untuk menambah kapasitasnya untuk menuju cita-cita swasembada telur. Tahun 2016 dan hingga saat ini Merauke telah swasembada telur dengan harga yang cukup stabil. 
 
Setelah melihat kelengkapan ijin dan prosedur yang dilakukan oleh perusahaan, Satpol PP Merauke melakukan pembongkaran spanduk warga yang bertuliskan protes tentang limbah ayam pada Kamis (16/1/2020) di sekitar perusahaan. Secara aturan, itu melanggar Perda nomor 6 tahun 2016 tentang penertiban umum.
 
Selain melanggar penertiban umum, ada pertimbangan lain bahwa perusahaan sudah melakukan pembenahan dampak limbah secara  bertahap dan mengikuti semu proses yang ditentukan pemerintah, jelas Kasatpol PP Merauke, Elias Refra.(geet)
 
 
 
 

Penulis

Kintan Rhapsudyah

staff

Berita yang berhubungan
Komentar

Komentar tidak ada

Silahkan komentar


Dapatkan berita update terbaru
Silahkan mendaftar untuk berlangganan berita, dikirim ke email anda