Papua Mandiri Santosa Foundation Sasar Orang Pinggiran Asli Papua

Berita » Detail

Berita Umum
30 Nov 2020 09:12
Papua Mandiri Santosa Foundation Sasar Orang Pinggiran Asli Papua
Papua Mandiri Santosa Foundation (PMSF) kini hadir di Merauke dengan visi: memperhatikan masyarakat paling bawah/masyarakat kecil asli Papua di kota dan pinggiran kota Merauke. 
 
Yayasan ini mempunyai missi yang dibentuk dalam #papuamandiri2050, yang artinya, di tahun 2050 nanti, OAP sudah mampu berdiri di atas tanahnya sendiri dan untuk itu mereka dipersiapkan dari sekarang. 
 
Tidak sendirian, yayasan ini bermitra dengan PJNS Belanda, Hapin Belanda dan beberapa donatur individu yang enggan disebutkan namanya. Banyak pihak yang juga ikut bergabung secara sukarela membantu menyukseskan kegiatan berupa sekolah lapang, belajar membaca, menulis dan menghitung, mengajak dan dan mengajarkan pola hidup bersih dan sehat. 
 
Untuk pemuda dan orang dewasa diberikan pelatihan dalam bidang jasa komputer dan bangunan kerja sama dengan BLK Merauke. Sementara ini masih menyasar di belakang Stadion Mini Maro Merauke, mereka adalah masyarakat migran dari Kabupaten Asmat, Mappi dan sekitarnya yang nota bene tidak punya tanah atau lahan. 
 
Lebih lanjut, Yayasan akan memberdayakan mama-mama Papua dalam hal menjahit dan tataboga. 
 
"Jadi ini missi besar, kita mempersiapkan satu generasi yakni di tahun 2050, orang asli Papua sudah mampu berdiri di atas tanahnya sendiri.  Beberapa dilakukan pendampingan, mulai nampak perubahan dari sisi penampilan mengenai kebersihan diri anak. Mereka juga sudah bisa diatur untuk belajar secara berkelompok," ujar Pendiri dan Ketua Papua Mandiri Sentosa Foundation Merauke, Edoardo Mote, Sabtu (28/11/2020) di sela-sela kegiatan. 
 
Untuk lebih meningkatkan rasa kebersamaan, setiap akhir bulan dilakukan kegiatan lantern night atau menyalakan lentera bersama bagi kelas anak-anak. Artinya sinar lantern diibaratkan bahwa Yayasan berperan memberi atau membagi pengetahuan kepada mereka. Sekaligus mengajak publik untuk melihat dan mengenal lebih dekat apa yang sedang terjadi pada anak-anak untuk menjadi perhatian bersama. 
 
Koordinator Bidang Pendidikan, Yehezkiel Henukh kesempatan berikut menyampaikan, awal pendekatan diakui tidaklah mudah. Setiap pendamping harus berlandaskan kasih yang tulus sebelum menerapkan metode. Yang terpenting adalah kasih dan ketulusan yang mendasari hati sebelum melayani. 
 
"Semua metode adalah baik, tapi kalau tidak dilandasi dengan aksi maka tidak akan berjalan dengan baik. Karena di dalam kasih ada keajaiban yang bisa saja metodenya sangat sederhana namun karena ada kasih di dalamnya maka bisa memberi dampak yang luar biasa," ucap Yehezkiel. 
 
Dia mengaku, setelah beberapa kali dilakukan pendampingan, dan penerapan disiplin, anak-anak dan remaja yang jumlahnya hampir mencapai ratusan sudah mulai mengerti, dan terarah. Saat ini, pihaknya sedang memproses pengajuan untuk membuka PAUD. Dokumen kelengkapannya akan diajukan pada Januari 2021 dengan harapan disetujui oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Merauke. 
 
"Sebab, anak-anak ini nantinya akan membutuhkan bukti sertifikat, tidak hanya mempunyai skill. Inilah yang mendorong kami untuk membuka PAUD dan setelah itu kita akan membuka kelompok belajar, sebut Yehezkiel yang juga putra asli Papua. 
 
Lanjut, kata Yehezkiel, sebagai putra asli Papua, dirinya punya tanggung jawab kepada sesama asli Papua yang situasi dan kehidupannya tidak tersentuh atau tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah agar OAP memperoleh kehidupan yang layak.(geet)
 
 
 

Penulis

Kintan Rhapsudyah

staff

Berita yang berhubungan
Komentar

Komentar tidak ada

Silahkan komentar


Dapatkan berita update terbaru
Silahkan mendaftar untuk berlangganan berita, dikirim ke email anda