Berita Utama

Merauke Dijajaki Jadi Titik Labuh Kapal Layar Dunia, Target Penentuan Mulai 2028

Merauke - Kabupaten Merauke berpeluang menjadi salah satu titik labuh kapal layar dunia di Indonesia. Pemerintah Kabupaten Merauke bersama pemerintah pusat mulai menjajaki peluang tersebut melalui survei dan diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD).

Bupati Merauke, Yoseph Bladib Gebze menjelaskan, penjajakan itu merupakan tindak lanjut dari arahan pemerintah pusat untuk mendorong pengembangan pariwisata Indonesia, khususnya dengan memanfaatkan potensi kekayaan alam dan bahari.

Menurutnya, secara geografis Merauke memiliki posisi strategis karena berdekatan dengan Australia. Selama ini, jalur pelayaran kapal layar dari Australia menuju Indonesia antara lain mengarah ke Tual dan Ambon.

“Kalau kita lihat secara geografis, Merauke merupakan salah satu wilayah Indonesia yang paling dekat dengan Australia. Karena itu, pemerintah pusat dan pemerintah daerah merasa perlu berkoordinasi untuk melakukan survei guna mengetahui kemungkinan Merauke menjadi salah satu titik labuh atau pintu masuk dan keluar bagi pelayaran kapal layar dunia di Indonesia,” ujarnya, Rabu, (14/10/2026). 

Ia menjelaskan, hasil survei tersebut akan menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan kelayakan Merauke sebagai lokasi persinggahan kapal layar internasional.

Bupati Merauke menuturkan bahwa keberadaan kapal layar dunia berpotensi memberikan dampak positif bagi daerah. Para pelaut dan rombongan yang melakukan perjalanan menggunakan kapal layar dapat tinggal selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, di berbagai wilayah Indonesia.

Kedatangan mereka juga berpotensi memperkenalkan keindahan alam dan kekayaan bahari Indonesia kepada masyarakat internasional, sehingga dapat membuka peluang bagi pengembangan pariwisata dan kegiatan ekonomi lokal.

“Kita berharap kehadiran mereka dapat memberikan dampak positif bagi Merauke, termasuk membuka peluang usaha dan mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” katanya.

Namun, lanjut Yoseph, kegiatan yang telah dilaksanakan masih sebatas FGD untuk membahas hasil survei. Masih diperlukan koordinasi dan tindak lanjut dengan berbagai pihak sebelum penetapan titik labuh dapat dilakukan.

Dikatakan, penentuan lokasi secara permanen paling cepat diperkirakan pada tahun 2028. Namun, hal tersebut masih bergantung pada hasil kajian, koordinasi lintas pihak, dan keputusan yang akan diambil selanjutnya.

Baca Juga: Kurangi Kelebihan Kapasitas, Lapas Merauke Pindahkan 25 Warga Binaan ke Tanah Merah

Pemerintah daerah berharap penjajakan ini dapat membuka peluang baru bagi pengembangan pariwisata bahari Merauke sekaligus memperluas kesempatan ekonomi bagi masyarakat setempat.(Get)