Berita Utama

Kemarau Panjang Picu ISPA dan Diare Meningkat di Merauke

Merauke - Musim kemarau yang berlangsung cukup panjang di Kabupaten Merauke mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Dua penyakit yang mengalami peningkatan kasus adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare.

Kepala Puskesmas Mopah Merauke, apt. Severina SH Wiratwanti, mengatakan peningkatan kasus ISPA terjadi cukup signifikan dibandingkan kondisi cuaca normal.

“Kalau di musim kemarau, apalagi ini sudah kemaraunya cukup panjang, angka ISPA memang meningkat. Peningkatannya lumayan, antara 10 sampai 20 persen dari angka kejadian saat cuaca tidak seekstrem sekarang,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi lingkungan selama kemarau menjadi salah satu faktor yang memicu peningkatan gangguan kesehatan. Debu yang beterbangan di jalan, suhu panas yang terik hingga risiko dehidrasi menjadi persoalan yang perlu diperhatikan masyarakat.

Kelompok yang paling rentan mengalami ISPA adalah anak-anak, khususnya usia sekolah. Kondisi lingkungan sekolah yang belum seluruhnya memiliki permukaan yang tertutup atau berpaving membuat debu mudah beterbangan ketika anak-anak beraktivitas.

“Yang paling rentan anak-anak, terutama usia sekolah. Pada saat bermain, tidak semua sekolah terlindungi. Ada yang sudah paving, tetapi ada juga yang masih tanah sehingga debu otomatis naik,” jelasnya.

Keluhan yang umum dialami anak antara lain sakit tenggorokan, sakit saat menelan, batuk dan pilek.

Orang Tua Diminta Perhatikan Asupan Cairan

Untuk mencegah gangguan kesehatan selama musim kemarau, masyarakat khususnya orang tua diminta memastikan anak mendapatkan cukup air putih.

Selain itu, penggunaan masker juga dianjurkan apabila anak mampu dan nyaman menggunakannya, terutama ketika berada di lingkungan yang berdebu.

“Bekali anak dengan air putih yang banyak, kemudian menggunakan masker kalau memang anak bisa menggunakan masker. Tetap memperhatikan kebersihan dan kesehatan, terutama sebelum makan,” katanya.

Ia menjelaskan, sebagian besar kasus ISPA yang ditangani masih berada pada kondisi yang tidak berat. Pasien umumnya mendapatkan edukasi dan obat sesuai keluhan sebelum diperbolehkan pulang.

Namun, apabila dalam waktu tiga hari tidak menunjukkan perubahan, pasien dianjurkan kembali ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut. Jika ditemukan kondisi lain yang membutuhkan penanganan khusus, pasien dapat dirujuk.

Diare Juga Mengalami Peningkatan

Selain ISPA, kasus diare juga mengalami peningkatan selama kemarau panjang. Kondisi tersebut berkaitan dengan semakin terbatasnya ketersediaan air bersih di tengah masyarakat.

“Kalau di cuaca seperti ini yang perlu kita perhatikan adalah diare dan ISPA. Kenapa diare? Karena air bersih sudah semakin berkurang. Itu menjadi tantangan bagi kami,” ungkapnya.

Peningkatan kasus diare diperkirakan berada di kisaran 10 persen dibandingkan kondisi pada hari-hari biasa atau ketika cuaca tidak ekstrem.

Menurut Severina, kualitas air menjadi salah satu hal yang harus menjadi perhatian masyarakat. Keterbatasan air bersih dapat menyebabkan masyarakat menggunakan sumber air yang kualitasnya kurang terjamin sehingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Cegah Dehidrasi pada Anak

Severina mengingatkan orang tua agar segera melakukan penanganan ketika anak mengalami diare. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mencegah anak mengalami dehidrasi akibat kehilangan banyak cairan.

“Yang pertama dilakukan orang tua adalah menjaga supaya anak tidak dehidrasi. Jangan sampai anak kehilangan cairan dan segera dibawa ke layanan kesehatan,” katanya.

Ia menjelaskan, terapi diare pada anak antara lain pemberian oralit dan zinc sesuai kebutuhan dan anjuran tenaga kesehatan.

Menurutnya, dehidrasi pada anak harus diwaspadai karena kondisi tersebut dapat berkembang menjadi serius apabila tidak segera ditangani.

Baca Juga: Tim Patriot UGM Gandeng Diskominfo Merauke Bahas Keberlanjutan DigiPangan

Ia juga menjelaskan bahwa diare dapat berkaitan dengan kualitas air dan kontaminasi mikroorganisme. Karena itu, masyarakat diminta memastikan air yang digunakan untuk minum maupun kebutuhan sehari-hari berada dalam kondisi bersih dan layak.

Sementara itu, untuk penyakit malaria, Severina mengatakan kondisi Merauke saat ini terus diarahkan menuju zona nol malaria. Karena itu, perhatian selama kemarau panjang lebih difokuskan pada peningkatan kasus ISPA dan diare.

“Yang paling meningkat ISPA, disusul diare,” pungkasnya.(Get)