Merauke - Tantangan pengelolaan sampah di Indonesia masih dipengaruhi oleh tingginya angka Susut dan Sisa Pangan (SSP) atau food loss and waste. Hingga saat ini, sebagian besar sampah organik, termasuk sisa makanan, masih dikelola secara konvensional dengan dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Penumpukan sampah organik di TPA dapat memicu pelepasan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang memiliki dampak besar terhadap pemanasan global. Padahal, apabila dikelola secara optimal, sampah organik memiliki potensi untuk dikonversi menjadi sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) yang bernilai guna bagi masyarakat.
Provinsi Papua Selatan menjadi salah satu wilayah strategis yang memiliki peluang besar dalam pengembangan EBT dari sektor pengelolaan sampah organik. Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan sinergi dan kolaborasi lintas sektor guna menghasilkan pendekatan yang sesuai dengan kondisi serta kebutuhan daerah.
Sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong pengelolaan sampah berbasis prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) dan mendukung target penurunan emisi nasional sektor limbah, Pemerintah Provinsi Papua Selatan bersama MEDCO Energi dan WWF Indonesia Program Papua menggelar lokakarya penjajakan pengelolaan sisa sampah organik, khususnya sampah makanan, menjadi energi baru terbarukan.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Halogen, Kabupaten Merauke, Kamis, (25/6/2026) ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, sekolah, hingga sektor energi.
Lokakarya tersebut menjadi ruang bersama untuk membangun pemahaman dan komitmen dalam mengembangkan peluang pengelolaan sampah organik menjadi energi alternatif yang lebih berkelanjutan.
Dalam kegiatan ini, WWF Indonesia Program Papua bersama para pemangku kebijakan, di antaranya Kementerian Lingkungan Hidup, Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Papua Bidang Wilayah III Papua Selatan dan Papua Tengah, Pemerintah Provinsi Papua Selatan, serta pemerintah kabupaten di wilayah Papua Selatan seperti Merauke, Mappi, Boven Digoel, dan Asmat, memperkenalkan inisiatif penjajakan pengelolaan Susut dan Sisa Pangan dalam kerangka asistensi Independent Power Producer (IPP) POME.
Inisiatif tersebut membuka peluang penerapan teknologi pengolahan sampah organik menjadi energi alternatif, seperti biogas. Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan dampak positif berupa pengurangan emisi gas rumah kaca, peningkatan nilai ekonomi, serta menghadirkan sumber energi alternatif yang lebih mandiri bagi masyarakat.
Selain menyamakan pemahaman mengenai potensi pengelolaan sampah organik, lokakarya ini juga menjadi wadah diskusi strategis untuk memetakan wilayah prioritas, mengkaji pilihan teknologi yang sesuai dengan kondisi bentang alam Papua Selatan, serta menyusun rekomendasi tindak lanjut bagi pemerintah daerah dan mitra pembangunan.
Waste Management Specialist WWF Indonesia Program Papua, Dony Kristiawan, mengatakan pengelolaan food loss and waste bukan hanya persoalan sampah, tetapi juga berkaitan dengan peluang ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
"Selain mengurangi emisi dan menghambat perubahan iklim, pengelolaan yang tepat juga membuka peluang ekonomi nyata serta menghasilkan sumber energi alternatif yang berkelanjutan," jelas Dony.
Melalui kolaborasi multipihak ini, diharapkan dapat terbentuk komitmen bersama dalam membangun sistem pengelolaan sampah organik yang rendah emisi dan berkelanjutan di Papua Selatan.
Baca Juga: Kurang dari 24 Jam, Polres Merauke Ungkap Kasus Pencurian dengan Kekerasan
Upaya tersebut diharapkan tidak hanya mendukung pencapaian target pengurangan emisi, tetapi juga mendorong inovasi energi terbarukan serta memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.(Get)








0 Komentar
Komentar tidak ada