Merauke - Ketua Himpunan Peternak Ayam Ras (HIPAR) Merauke, Thomas Kimko mengapresiasi dukungan pemerintah, pihak swasta, serta berbagai rumah aspirasi partai politik yang telah memberikan bantuan usaha peternakan ayam ras petelur kepada masyarakat, khususnya Orang Asli Papua (OAP) maupun warga nusantara.
Menurutnya, program bantuan tersebut telah memberikan dampak positif karena semakin banyak masyarakat yang mulai mengembangkan usaha peternakan ayam petelur. Namun, di balik keberhasilan tersebut masih terdapat sejumlah hal yang perlu dievaluasi agar usaha peternakan dapat berkembang secara berkelanjutan.
"Yang paling utama adalah kesiapan calon peternak. Mereka perlu dibekali kemampuan manajemen usaha, membangun sinergi dengan peternak yang sudah lebih dulu berusaha, memahami strategi pemasaran, hingga memastikan ketersediaan pakan," ujarnya Thomas yang juga menjabat sebagai Kadis Kominfo Kabupaten Merauke.
Ia menjelaskan, berdasarkan evaluasi beberapa tahun terakhir, sejumlah peternak penerima bantuan mengalami kesulitan ketika pasokan pakan terganggu. Selain itu, persoalan pemasaran juga masih menjadi tantangan karena hasil produksi telur tidak seluruhnya terserap pasar.
Menurutnya, ada pihak yang membantu mengambil hasil produksi telur dari peternak binaan. Namun, harga pembelian dinilai belum sebanding dengan biaya produksi sehingga berpotensi menghambat perkembangan usaha.
"Kalau harga beli terlalu rendah, saya pastikan mereka tidak akan berkembang pada periode berikutnya karena hasil penjualan tidak mampu menutupi biaya produksi," katanya.
Di sisi lain, Ketua HIPAR menyebut jumlah peternak ayam petelur di Kabupaten Merauke terus bertambah, baik melalui bantuan pemerintah maupun berbagai program lainnya di luar pembinaan HIPAR. Bertambahnya jumlah peternak tersebut turut menyebabkan produksi telur di Merauke mengalami surplus.
Meski demikian, ia bersyukur harga telur di pasaran masih berada pada kisaran normal dan belum mengalami penurunan yang terlalu tajam. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya menguntungkan bagi peternak skala kecil.
"Harga telur sekitar Rp60 ribu per rak saja sebenarnya keuntungan sudah sangat tipis karena harga pakan terus naik," jelasnya.
Ia menilai peternak dengan pulasi ayam di bawah 5.000 ekor akan mengalami kesulitan apabila harus bersaing pada harga jual yang rendah. Berbeda dengan peternak berskala besar yang masih memiliki ruang untuk menekan biaya operasional.
"Kalau peternak dengan populasi 1.000 sampai 2.000 ekor harus bermain di harga Rp50 ribu sampai Rp60 ribu per rak, saya pastikan mereka akan kesulitan untuk berkembang," tegasnya.
Baca Juga: Gubernur Aplolo Tegaskan Disiplin ASN Dalam Tugas dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Karena itu, HIPAR berharap program bantuan peternakan ke depan tidak hanya berfokus pada penyaluran ternak, tetapi juga disertai pembinaan yang berkelanjutan, pendampingan manajemen usaha, penguatan akses pasar, serta jaminan ketersediaan pakan agar usaha peternak baru dapat tumbuh dan memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.(Get)








0 Komentar
Komentar tidak ada