Berita Utama

DLH Merauke dan WWF Indonesia Dorong Sekolah Adiwiyata Kurangi Sampah Makanan

Merauke – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Merauke bersama WWF-Indonesia mendorong peran strategis Sekolah Adiwiyata dalam mengurangi sampah makanan melalui edukasi dan kampanye di lingkungan sekolah.

Upaya tersebut diwujudkan melalui rangkaian kegiatan pembinaan Sekolah Adiwiyata yang dilaksanakan selama dua hari, 14–15 September 2026, di SMP YPPK Yoanes 23 Merauke.

Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi WWF-Indonesia Program Papua dan DLH Kabupaten Merauke melalui Joint Work Plan, sekaligus menyongsong Hari Kesadaran Internasional tentang Susut dan Sisa Pangan yang diperingati setiap 29 September.

Sampah makanan menjadi salah satu persoalan lingkungan yang perlu mendapat perhatian. Makanan yang tersisa dan terbuang secara berulang, terutama dalam jumlah besar, dapat menambah beban pengelolaan sampah serta berdampak terhadap lingkungan.

Sekolah dinilai menjadi ruang strategis untuk membangun kebiasaan bijak terhadap makanan sejak dini. Melalui lingkungan sekolah, pengetahuan mengenai makanan yang terbuang dapat diperkenalkan, didiskusikan, dan diterjemahkan menjadi tindakan sederhana oleh siswa maupun warga sekolah.

Susun Program Kerja dan Pelatihan Guru

Rangkaian kegiatan diawali pada 14 September 2026 melalui penyusunan program kerja tahunan Sekolah Adiwiyata.

Selanjutnya, pada 15 September 2026, kegiatan dilanjutkan dengan Training of Trainers (ToT) mengenai susut dan sisa pangan.

Melalui kegiatan tersebut, para peserta memperkuat pemahaman mengenai persoalan sampah makanan, dampaknya terhadap lingkungan, serta langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menguranginya.

Para guru sebagai perwakilan Sekolah Adiwiyata tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai isu sampah makanan, tetapi juga mempraktikkan cara menyampaikan pesan tersebut kepada warga sekolah.

Melalui sesi microteaching, peserta berdiskusi dan mengembangkan metode penyampaian informasi mengenai sampah makanan dengan bahasa yang sederhana, menarik, serta dekat dengan kehidupan sehari-hari guru dan siswa.

Sebagai tindak lanjut, peserta didorong membawa pengetahuan yang diperoleh ke sekolah masing-masing melalui kegiatan edukasi. Pesan tersebut diharapkan dapat diteruskan melalui berbagai aktivitas sekolah maupun dokumentasi pada media sosial resmi sekolah.

Dengan demikian, kampanye pengurangan sampah makanan tidak berhenti pada kegiatan ToT, tetapi dapat terus bergerak menjangkau lebih banyak warga sekolah hingga masyarakat.

24 Kriteria dan Lima Aspek Adiwiyata

Kepala Bidang Perencanaan Lingkungan Hidup dan Peningkatan Kapasitas DLH Kabupaten Merauke, Widodo Supriyanto, mengatakan saat ini telah terdaftar 19 sekolah Adiwiyata tingkat SD dan lima sekolah tingkat SMA di Kabupaten Merauke.

“Kami berharap setelah kegiatan ini sekolah dapat menyusun perencanaan empat tahun dan satu tahun untuk program Sekolah Adiwiyata. Selain itu, sekolah juga diharapkan dapat mengenalkan 24 kriteria Adiwiyata serta lima aspek Adiwiyata kepada siswa,” ujarnya.

Ia menjelaskan, lima aspek tersebut meliputi kebersihan dan sanitasi sekolah, pengelolaan sampah, keanekaragaman hayati, konservasi energi, dan konservasi air.

Menurutnya, penerapan aspek-aspek tersebut penting untuk menanamkan kecintaan terhadap lingkungan kepada siswa sehingga tumbuh kepedulian dan kebiasaan menjaga lingkungan sejak dini.

“Dengan demikian, guru dapat menanamkan kecintaan terhadap lingkungan kepada murid-murid sehingga mereka memiliki kepedulian dan kebiasaan untuk menjaga lingkungan,” katanya.

Widodo menyebutkan, berdasarkan pemantauan yang dilakukan, terdapat dua sekolah yang telah menerapkan program Adiwiyata, yakni SD Inpres Polder dan SMP Negeri 2 Merauke.

“Sementara itu, sekolah-sekolah lainnya baru terdaftar pada Mei 2026. Oleh karena itu, kedua sekolah yang telah menerapkan program tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lainnya,” ujarnya.

Guru Berperan Membentuk Kebiasaan Siswa

Perwakilan guru Sekolah Adiwiyata SMPN 2 Merauke, Titik Budik Ningsih, menilai guru memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan siswa untuk lebih bijak terhadap makanan.

Menurutnya, guru tidak hanya bertugas memberikan pengetahuan, tetapi juga menjadi contoh sekaligus membiasakan siswa melakukan langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

“Ya memang betul bahwa guru punya peran yang cukup besar karena setiap hari kami berinteraksi dengan anak-anak. Jadi, bukan hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga memberikan contoh dan membiasakan mereka melakukan hal-hal sederhana. Apa yang mereka dapatkan di sekolah juga bisa mereka ceritakan kembali kepada orang tua dan keluarga di rumah,” jelas Titik.

Ia menambahkan, pemahaman siswa mengenai pentingnya mencegah makanan terbuang dapat menjadi langkah awal untuk mendorong perubahan perilaku, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga.

Pengurangan Sampah Dimulai dari Sumbernya

Staff Waste Management WWF-Indonesia Program Papua, Dony, mengatakan pengurangan sampah sejak dari sumbernya merupakan bagian penting dalam pengelolaan sampah, termasuk sampah makanan.

Menurutnya, makanan yang berhasil dicegah agar tidak terbuang sejak awal akan mengurangi jumlah sampah yang nantinya harus dikumpulkan, diangkut, dan diolah.

“Dalam pengelolaan sampah, upaya mengurangi dari sumber tentu menjadi bagian yang penting. Sampah makanan yang berhasil dicegah sejak awal berarti mengurangi jumlah sampah yang nantinya harus dikumpulkan, diangkut, dan diolah. Karena itu, langkah sederhana untuk mencegah makanan terbuang perlu mendapat perhatian, termasuk di lingkungan sekolah, salah satunya melalui aksi edukasi,” ujar Dony.

Ia menegaskan, upaya mengurangi sampah makanan merupakan tanggung jawab bersama yang dapat dimulai dari kebiasaan sederhana.

Melalui peran guru dan warga sekolah sebagai penggerak, pesan mengenai pentingnya mengurangi makanan terbuang diharapkan dapat diteruskan kepada keluarga, teman, hingga masyarakat yang lebih luas.

Baca Juga: Cuaca Ekstrem, KSOP Merauke Imbau Kapal Kecil dan Nelayan Tidak Melaut

Selain itu, pemanfaatan media sosial resmi sekolah menjadi salah satu sarana untuk memperluas kampanye dan menginspirasi lebih banyak masyarakat agar lebih bijak dalam mengelola makanan.(Get)