Merauke - Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 1 Universitas Gadjah Mada (UGM) menggandeng Universitas Musamus (Unmus) untuk mendorong pengembangan sektor hulu komoditas kopi di Kawasan Transmigrasi (KT) Muting, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Kopi menjadi salah satu komoditas perkebunan yang mulai dikembangkan masyarakat Muting dan dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi penggerak ekonomi. Namun, pengembangannya masih menghadapi tantangan, terutama rendahnya produktivitas tanaman di tingkat petani.
Saat ini, produktivitas kopi di kawasan tersebut berada pada kisaran 560 gram green beans per pohon per tahun. Angka tersebut masih jauh dari potensi yang diharapkan, yakni sekitar 1,5 kilogram green beans per pohon per tahun.
Kesenjangan tersebut menunjukkan masih terbukanya peluang peningkatan hasil melalui penguatan sektor hulu, terutama perbaikan praktik budidaya dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian petani adalah serangan Penggerek Buah Kopi (PBKo), Hypothenemus hampei (Ferr.). Hama tersebut menyerang buah dan biji kopi sehingga tidak hanya berpotensi menurunkan kuantitas produksi, tetapi juga memengaruhi kualitas biji.
Buah kopi yang terserang umumnya menunjukkan lubang gerekan yang menjadi jalan masuk serangga menuju bagian biji. Kerusakan tersebut dapat menurunkan kualitas fisik biji dan berpotensi memengaruhi karakteristik mutu hasil panen.
Kondisi ini juga menjadi salah satu keluhan petani karena kopi yang terserang hama dinilai menghasilkan kualitas seduhan yang kurang baik, termasuk cita rasa yang lebih pahit dan anyir.
Melihat persoalan tersebut, TEP 1 UGM yang diketuai Chandra Setyawan, mendorong penguatan kapasitas petani melalui pelatihan pengendalian hama kopi pada 6 September 2026.
Dalam kegiatan tersebut, UGM menggandeng Unmus dengan menghadirkan dosen Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian Unmus, Dr. Jefri Sembiring, sebagai narasumber.
Jefri memberikan pemahaman teknis kepada petani mengenai pengelolaan tanaman kopi serta pengendalian hama yang dapat diterapkan sesuai kondisi kebun masyarakat.
Pelatihan diikuti sekitar 80 peserta yang berasal dari empat kelompok tani kopi di Kampung Seed Agung. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Focus Group Discussion (FGD) TEP yang diketuai Moh. Wahyudin dengan fokus pada perancangan model bisnis dan peta jalan hilirisasi kopi Muting.
Materi pelatihan mencakup pengenalan OPT, khususnya PBKo, gejala serangan, siklus dan karakteristik hama, hingga langkah pengendalian yang dapat dilakukan petani di tingkat kebun.
Petani juga diberikan pemahaman bahwa pengendalian hama tidak hanya dilakukan setelah serangan menjadi parah, tetapi harus diawali dengan pengamatan dan pemantauan tanaman secara berkala.
Pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) menjadi salah satu prinsip yang diperkenalkan, melalui kombinasi tindakan budidaya, sanitasi kebun, pengelolaan tanaman, pemantauan populasi hama, serta pengendalian secara mekanis maupun biologis sesuai kondisi lapangan.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap tindakan pengendalian yang bersifat reaktif sekaligus mendorong pengelolaan kebun yang lebih terencana.
Selain pelatihan pengendalian hama, UGM juga memperkenalkan pupuk cair organik FAPET POC yang diproduksi Fakultas Peternakan UGM sebagai salah satu alternatif input pertanian yang diharapkan dapat mendukung pertumbuhan dan peningkatan produktivitas tanaman kopi.
Pengenalan inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pemanfaatan hasil perguruan tinggi agar dapat diterapkan sesuai kebutuhan petani di lapangan.
Kolaborasi UGM dan Unmus diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat berlanjut melalui pendampingan, pengembangan teknologi, serta penerapan inovasi yang sesuai dengan kondisi lokal.
Baca Juga: DPRD Merauke Desak Intruksi Bupati Segera Terbit untuk Atasi Antrean BBM
Dengan penguatan sektor hulu secara berkelanjutan, kopi Muting diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas, memperkuat kelembagaan kelompok tani, serta memberikan kontribusi lebih besar terhadap peningkatan pendapatan dan perekonomian masyarakat di Kawasan Transmigrasi Muting.(Get)








0 Komentar
Komentar tidak ada