Merauke - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Merauke bersama WWF-Indonesia terus mendorong peningkatan kesadaran masyarakat dalam mengurangi dan mengelola susut serta sisa pangan.
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Talkshow Susut dan Sisa Pangan bertema “Ko Bijak Pangan, Ko Selamatkan Bumi” yang digelar di SMP Al-Ma’arif NU Merauke, Selasa, (29/9/2026).
Kegiatan ini diikuti perwakilan Sekolah Adiwiyata, komunitas, serta tamu undangan dari sejumlah instansi pemerintah. Talkshow tersebut merupakan tindak lanjut dari kegiatan Training of Trainers (ToT) Sekolah Adiwiyata yang telah dilaksanakan pada 15 September 2026.
Selain menjadi sarana edukasi, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk melihat sekaligus mengapresiasi implementasi materi yang telah diterima sekolah melalui ToT, baik dalam kegiatan edukasi dan sosialisasi maupun penyebarluasan pesan mengenai susut dan sisa pangan melalui media sosial sekolah.
Melalui ToT, sekolah-sekolah Adiwiyata sebelumnya telah dibekali bahan ajar dan panduan kegiatan edukasi yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah.
Dalam talkshow tersebut, tiga materi utama disampaikan oleh para narasumber, yakni mengenai peran Sekolah Adiwiyata, pengelolaan sampah dari sumber, serta hasil kajian timbulan sampah makanan di Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Merauke.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke membahas pentingnya peran Sekolah Adiwiyata dalam membangun budaya peduli lingkungan sekaligus mendorong penerapan kebiasaan ramah lingkungan di sekolah, termasuk dalam mengurangi dan mengelola sisa pangan.
Kepala Bidang Pengendalian Perizinan dan Bahasa Sastra Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke, Untung, mengatakan pembentukan karakter peduli lingkungan perlu dimulai sejak usia dini melalui lingkungan sekolah.

“Pembangunan karakter dini anak perlu dibentuk di bangku sekolah. Bangun kebiasaan melalui sekolah, edukasi. Selain itu, kita juga dorong perilaku hidup bersih dan sehat. Anak perlu melihat dulu lingkungan sekitarnya sudah bersih dan sehat atau belum,” tutur Untung.
Sementara itu, DLH Kabupaten Merauke menyampaikan pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumber, termasuk melalui pengurangan dan pemilahan sampah sebelum masuk ke tahap pengangkutan maupun pengolahan.
Kepala Bidang Perencanaan Lingkungan Hidup dan Peningkatan Kapasitas DLH Kabupaten Merauke, Widodo Supriyatno, mengatakan penerapan pengelolaan sampah dari sumber perlu dilakukan secara luas, termasuk di lingkungan sekolah.
“Melalui penerapan praktik pengurangan, pemilahan, dan pengelolaan sampah di lingkungan sekolah, warga sekolah tidak hanya membangun kebiasaan peduli lingkungan, tetapi juga mendukung penerapan indikator Sekolah Adiwiyata di lingkungan sekolah. Kami juga mulai perlu membiasakan penerapan kebijakan dalam pembagian peran masing-masing pihak, diperkuat dengan penyadartahuan,” ujar Widodo.
Menurutnya, edukasi dan pembagian peran yang jelas menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang berkelanjutan di lingkungan sekolah.
Dalam kesempatan yang sama, WWF-Indonesia memaparkan hasil kajian mengenai timbulan sampah makanan di Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Merauke. Paparan tersebut juga membahas berbagai upaya yang telah dilakukan serta langkah yang masih perlu diperkuat untuk mengurangi susut dan sisa pangan.
Waste Management Specialist WWF-Indonesia Program Papua, Dony Kristiawan, menjelaskan bahwa sampah makanan perlu mendapat perhatian karena makanan yang terbuang tidak hanya berarti hilangnya pangan, tetapi juga sumber daya yang telah digunakan sejak proses produksi, distribusi hingga konsumsi.
Menurutnya, sisa pangan yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Ketika sisa makanan bercampur dengan sampah lain dan terurai tanpa oksigen di tempat pembuangan akhir, proses tersebut dapat menghasilkan metana yang merupakan salah satu gas rumah kaca.
“Perubahan dalam pengelolaan sampah perlu dimulai dari sumber. Melalui kolaborasi dan kegiatan kampanye seperti ini, kita tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun kesadaran dan kebiasaan baru di masyarakat agar sampah, termasuk sisa pangan, dapat dikurangi dan dikelola sejak dari sumbernya,” ujar Dony.
Komitmen Pemerintah Kabupaten Merauke melalui kerja bersama dinas terkait dinilai penting agar edukasi mengenai susut dan sisa pangan tidak berhenti pada satu kegiatan.
Dukungan terhadap pembelajaran di sekolah, pengurangan sisa pangan, pemilahan sampah dari sumber, serta penguatan layanan pengelolaan sampah diharapkan dapat menghubungkan perubahan perilaku masyarakat dengan pelaksanaan program daerah secara berkelanjutan.
Sekolah-sekolah Adiwiyata juga diharapkan dapat menjadi penggerak aksi yang melibatkan siswa, guru, pengelola kantin, keluarga, dan komunitas. Praktik baik yang dilakukan di sekolah selanjutnya dapat dibagikan sebagai pembelajaran bagi sekolah dan wilayah lainnya.
Papua Selatan Landscape Leader WWF-Indonesia, William Iwanggin, mengatakan kemitraan jangka panjang diperlukan agar kesadaran yang dibangun dapat diwujudkan menjadi aksi yang konsisten.
“Komitmen kerja sama ini harapannya dapat dibawa sebagai penguatan kolaborasi hingga 2030. Tentunya ini juga komitmen dalam mendukung Pemerintah Kabupaten Merauke, khususnya pendampingan Sekolah Adiwiyata,” kata William.

Ia mengatakan pendampingan terhadap sekolah-sekolah Adiwiyata diharapkan dapat melahirkan sekolah sebagai penggerak perubahan dalam menghadapi perubahan iklim, terutama melalui upaya pengurangan emisi metana.
“Kami ingin pendampingan terhadap sekolah-sekolah Adiwiyata dapat melahirkan sekolah sebagai penggerak perubahan dalam perubahan iklim, terutama pengurangan emisi metana. Pastinya, dengan komitmen pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat, praktik baik dari Merauke dapat menjadi pembelajaran bagi wilayah lain,” tuturnya.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat, khususnya warga sekolah, diajak untuk mulai menerapkan kebiasaan sederhana dalam mengurangi makanan terbuang, seperti mengambil makanan secukupnya, menghabiskan makanan, serta mengelola sisa makanan dengan tepat.
Baca Juga: Seleksi Sekolah Kedinasan Papua Selatan Diminta Transparan Tanpa Praktik KKN
Setiap makanan yang dapat diselamatkan dari pemborosan menjadi bagian dari upaya menjaga sumber daya sekaligus mengurangi dampak lingkungan akibat sampah makanan.(Get)








0 Komentar
Komentar tidak ada