Merauke - Anggota DPR/MPR RI Fraksi Partai PDIP Dapil Papua Selatan, Edoardus Kaize melakukan sosialisasi empat pilar kebangsaan kepada mahasiswa dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) di Merauke, Senin, (28/6/2026) di Aula Vertenten Cikombong Merauke.
Empat Pilar kebangsaan yang dimaksudkan adalah Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Empat pilar ini sangat penting untuk memperkuat pemahaman ideologi bangsa. Tujuan sosialisasi adalah menanamkan kesadaran bernegara, menumbuhkan rasa nasionalisme, serta membentengi masyarakat terutama generasi muda dari dampak negatif globalisasi dan paham yang bertentangan dengan jati diri bangsa.
Edoardus mengatakan, empat pilar kebangsaan ini sangat penting untuk digaungkan secara terus menerus oleh semua pihak guna menjaga persatuan serta memperkokoh toleransi di tengah perbedaan suku, ras maupun agama dan juga rasa keadilan sebagimana termuat dalam lima dasar Pancasila.
Selain itu, menjadikannya nilai-nilai dasar sebagai pedoman dalam bersikap, bermasyarakat, menjalankan pemerintahan, memperkuat identitas bangsa dan menghidupkan kembali memori kolektif akan perjuangan dan semangat proklamasi.

"Apa yang kita dengar dan kita diskusi hari ini menjadi bekal untuk kita supaya dikemudian hari tidak lagi bikin masalah. Lakukan yang baik mulai dari diri sendiri, dan untuk orang lain yang ada di sekitar kita supaya kehidupan yang baik yang kita inginkan bisa terjadi. Ketika kebaikan terjadi lebih banyak maka akan terjadi segala situasi yang positif dan baik pula," terang Anggota DPR RI.
Anggota DPR RI asli Papua Selatan ini mengajak semua peserta sosialisasi dan semua kalangan memperbaiki diri mulai cara pandang, berpikir positif dengan menerima semua keberagaman sebagai kekuatan untuk melengkapi satu dengan yang lain.
"Kita tidak bisa hidup sendiri, kita butuh orang lain untuk saling melengkapi kekurangan. Sebab dengan perbedaan jadi kekuatan dan dengan keberagaman menjadi potensi dalam memperkuat kebersamaan. Kalau masih terjadi kekacauan berarti ada unsur lain yang terjadi, masih ada ketidaknyamanan, ketidakadilan, tidak jujur dll. Artinya belum benar-benar mengimplementasikan empat pilar kebangsaan dalam hidup sehari-hari," ucap Edo.
Dalam sesi diskusi, salah satu peserta mengangkat perihal apa yang dilarang dari agama yang satu dan diperbolehkan di agama yang lain. Salah satunya, makanan halal dan haram menurut masing-masing keyakinan. Dalam kondisi tersebut, Edo sampaikan agar masing-masing yang punya keyakinan tetap saling menghargai apa yang boleh dan yang tidak tanpa menimbulkan masalah atau perdebatan dengan menerapkan moderasi beragama.

Moderasi beragama adalah cara pandang dan sikap dalam menjalankan ajaran agama secara seimbang. Ini berarti mengambil jalan tengah atau moderat, tidak ekstrem ke kiri (liberal/kurang peduli agama) maupun ke kanan (radikal/fanatik), sehingga tercipta kehidupan yang rukun, toleran, dan damai di tengah keberagaman tersebut.
Sementara itu, Yuliana, peserta lainnya mengutarakan bahwa sosialisasi empat pilar kebangsaan dirasa sangat penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Yuliana mengakui bahwa dirinya telah mengalami dampak dari keadilan baik bantuan maupun perhatian sekalipun dirinya bukan orang asli di Papua Selatan.
Hal ini sebagai refeleksi mendalam atas pengalaman keseharian dari keadilan sosial yakni pilar kelima dari Pancasila yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, menurutnya terjadi pemerataan.
Pengalaman berbeda juga disampaikan peserta sosialisasi dalam sesi diskusi. Antusiasme peserta tersebut menandakan bahwa materi yang disampaikan itu benar-benar diterima dan dipahami dengan baik.
Baca Juga: Kunjungi Kabupaten Asmat, Wapres Gibran Berjanji Tindaklanjuti Aspirasi Masyarakat
"Hasil dari sosialisasi, apa tanggapan masyarakat tentang nilai-nilai dari Pancasila, UUD, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika akan saya laporkan secara tertulis ke MPR-RI," ucap Edo.(Get)








0 Komentar
Komentar tidak ada