Merauke - Kerasnya tantangan hidup dan realitas dunia yang penuh ketidakadilan kerap menggoda manusia untuk membalas kejahatan dengan cara yang sama. Namun, umat Kristiani dipanggil untuk tetap menjaga ketulusan hati tanpa kehilangan kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.
Hal tersebut disampaikan Pastor Roy Sugianti, Pr, dalam homilinya pada misa pagi, Jumat (10/7/2026). Ia mengawali renungannya dengan menyinggung laporan tahunan Edelman Trust Barometer yang menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan antarmanusia maupun terhadap berbagai institusi berada pada titik terendah dalam sejarah.
Menurut Pastor Roy, kondisi tersebut melahirkan masyarakat yang semakin defensif. Banyak orang memilih mengenakan "topeng sinisme" dan membangun tembok psikologis demi melindungi diri dari berbagai kekecewaan dan ketidakpercayaan.
"Di tengah dunia yang penuh kecurigaan inilah, sabda Yesus dalam Injil Matius bergema sebagai sebuah kebalikan radikal yang menghentak kesadaran kita: 'Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala' (Mat. 10:16)," katanya.
Ia menjelaskan, Yesus tidak menghendaki para murid-Nya menjadi lemah, melainkan tetap teguh menjaga ketulusan sekaligus memiliki kebijaksanaan dalam menghadapi kerasnya kehidupan.
Pastor Roy mengatakan, godaan terbesar ketika menghadapi kekejaman atau ketidakadilan adalah membalas dengan cara yang sama. Dunia mengajarkan bahwa untuk menghadapi "serigala", seseorang harus memiliki taring yang lebih tajam. Namun, Kristus justru mengajarkan agar umat-Nya menjadi "cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati."
Menurutnya, ketulusan bukanlah sikap naif ataupun kelemahan, melainkan kekuatan yang lahir dari keterbukaan hati sepenuhnya kepada Allah. Ia mengutip Nabi Hosea yang mengajak umat meninggalkan berbagai "berhala modern" dan kembali menggantungkan harapan hanya kepada Tuhan.
"Pertobatan sejati dimulai ketika manusia berani menanggalkan topeng kepura-puraannya dan mengakui kerapuhannya di hadapan Sang Pencipta," ujarnya.
Pastor Roy juga mengutip Mazmur 51 yang berisi doa agar Allah menciptakan hati yang murni dan memperbarui batin manusia.
Menurutnya, hati yang murni tidak dibentuk oleh kekerasan maupun egoisme dunia, tetapi melalui penyesalan dan rahmat Allah yang menghadirkan kedamaian batin.
Dalam homilinya, ia turut mengutip ajaran Santo Yohanes Krisostomus yang menyatakan bahwa selama umat tetap menjadi "domba", mereka akan memperoleh kemenangan meskipun dikelilingi banyak "serigala". Sebaliknya, ketika manusia memilih menjadi "serigala", bantuan Sang Gembala akan menjauh.
"Kemenangan sejati seorang murid Kristus tidak pernah diukur dari seberapa keras ia mampu membalas, melainkan dari seberapa setia ia menjaga kelembutan hatinya di bawah bimbingan Sang Gembala Agung," katanya.
Ia menegaskan bahwa ketika menghadapi penolakan, penganiayaan, maupun ketidakadilan, Roh Kudus akan menyertai dan berkarya melalui kesetiaan orang beriman.
Mengakhiri homilinya, Pastor Roy mengajak umat melangkah dengan keberanian iman, meninggalkan kesombongan, serta membiarkan kasih Allah memulihkan setiap luka batin.
Baca Juga: Kapolres Merauke Terima Penghargaan Kapolri Atas Capaian IKPA Sempurna Tahun Anggaran 2025
"Marilah kita melangkah hari ini dengan keberanian iman yang baru, menanggalkan baju besi kesombongan, dan membiarkan kasih Allah memulihkan setiap retakan dalam jiwa kita agar senantiasa hidup lebih dekat dengan-Nya," tutupnya.(Get)








0 Komentar
Komentar tidak ada