Berita Utama

121 Tahun Gereja Katolik di Papua Selatan, Uskup Mandagi Soroti Kekerasan dan Serukan Perdamaian

Merauke - Uskup Agung Merauke Mgr. Petrus Canisius Mandagi menyoroti maraknya kekerasan yang terjadi di Papua, termasuk di Papua Selatan. Ia menegaskan bahwa kekerasan bukanlah cara yang diajarkan dalam iman Kristiani maupun ajaran Gereja Katolik.

Hal tersebut disampaikan Mgr. Petrus Canisius Mandagi dalam perayaan 121 tahun masuknya Gereja Katolik di Papua Selatan, di Patung Hati Kudus Yesus, Areal Bandara Mopah Merauke, Jumat (14/8/2026).

Dalam khotbahnya, Uskup Mandagi mengaku sedih melihat berbagai tindakan kekerasan yang terjadi di Papua. Ia menyinggung kekerasan di Papua Tengah yang menyebabkan sejumlah kantor pemerintah dibakar.

“Terjadi juga di Papua, termasuk Papua Selatan. Baru-baru ini terjadi kekerasan di Papua Tengah, kantor-kantor pemerintah dibakar. Sedih menyaksikan semuanya ini,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan kekerasan juga masih terjadi di Merauke. Ia menyinggung aksi begal, konsumsi minuman keras hingga mabuk, serta tindakan saling membunuh yang menunjukkan bahwa kekerasan seolah-olah mulai dianggap sebagai cara biasa untuk menyelesaikan persoalan.

Ia mempertanyakan apakah kekerasan tersebut merupakan bagian dari ajaran Kristus.

“Benarkah ini? Apakah hal ini merupakan ajaran Kristus, ajaran Katolik? Tentu tidak. Ini bertentangan dengan ajaran Kristus, yakni kasih,” tegasnya.

Uskup Mandagi mengatakan, 121 tahun perjalanan misi Katolik yang dibawa para misionaris ke Papua Selatan harus menjadi momentum untuk kembali menghidupkan nilai kasih di tengah masyarakat.

Ia berharap semangat Hati Kudus Yesus, yang menjadi simbol cinta kasih, semakin menyebar di seluruh Papua Selatan.

“Hati yang menunjuk kepada cinta kasih,” katanya.

Dewasa ini, kata Mandagi, kekerasan semakin mewarnai kehidupan Uskup Mandagi juga mengingatkan bahwa perkembangan kehidupan manusia dan kemajuan ekonomi tidak otomatis membuat dunia menjadi lebih damai.

Menurutnya, kehidupan manusia dewasa ini justru semakin diwarnai kekerasan.

Ia mengutip pesan Paus Leo XIV yang menyerukan agar perdamaian ditempatkan di atas segala kepentingan dan kekuasaan.

“Damai di atas segala-galanya, pengampunan di atas segala-galanya, kasih di atas segala-galanya,” ujarnya.

Ia juga mengajak orang muda untuk menjadi pembawa harapan dan perdamaian di tengah dunia yang masih diwarnai konflik dan kekerasan.

Baca Juga: Wakil Bupati Merauke Dorong Kolaborasi Lintas Sektor Menuju Zero HIV/AIDS 2030

Menurutnya, menjadi orang kudus pada zaman modern bukan berarti menjauh dari kehidupan masyarakat, melainkan menghadirkan kasih, kepedulian, kesabaran, serta pengampunan.

“Jadilah orang kudus di zaman modern ini. Suci berarti membawa kasih. Kasih berarti peduli, tetapi terlebih-lebih kasih adalah pengampunan,” tuturnya.(Get)