Berita Utama

Harga Rica di Merauke Tembus Rp170 Ribu per Kilogram, Kemarau Jadi Pemicu

Merauke – Harga cabai atau rica di Kabupaten Merauke terus mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut dipengaruhi musim kemarau yang membuat ketersediaan air untuk penyiraman tanaman semakin terbatas, sehingga produksi cabai di tingkat petani ikut terdampak.

Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Merauke terus melakukan pemantauan harga komoditas pangan setiap hari, mulai dari pasar hingga ke tingkat petani. Hasil pemantauan menunjukkan harga rica saat ini bertahan di kisaran Rp130 ribu per kilogram, bahkan sempat mencapai Rp150 ribu hingga Rp170 ribu per kilogram.

“Memang ini karena faktor alam. Sekarang musim panas, air agak susah untuk menyiram. Jadi harga rica memang tidak mau turun,” ujar Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Merauke, Martha Bayu, Selasa (25/8/2026).

Ia menyampaikan, kondisi tersebut telah berlangsung sekitar dua pekan. Padahal, pada awal Agustus lalu harga rica sempat menyentuh Rp95 ribu per kilogram. Namun, harga tersebut hanya bertahan selama satu hari dan kemudian kembali mengalami kenaikan.

Untuk menjaga ketersediaan dan mengendalikan harga, pemerintah saat ini masih mengandalkan stok cabai dari dalam daerah. Apabila stok lokal tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan harga terus bertahan tinggi, pemerintah akan mempertimbangkan mendatangkan cabai dari Jayapura seperti yang pernah dilakukan beberapa bulan sebelumnya.

“Kalau stok di dalam sudah tidak bisa terpenuhi dan harga juga tidak mau turun, terpaksa harus datangkan lagi dari Jayapura untuk menekan harga,” katanya.

Selain melakukan pemantauan harga, pemerintah juga telah melakukan langkah antisipasi dengan membagikan bibit cabai kepada masyarakat. Bantuan tersebut diberikan kepada sejumlah kampung yang memiliki sumber air, mengingat budidaya cabai pada musim kemarau membutuhkan ketersediaan air yang cukup.

Sebanyak 4.950 bibit rica dalam koker dibagikan kepada masyarakat di sembilan kampung lokal. Masing-masing kampung mendapatkan 550 koker bibit rica.

Adapun sembilan kampung tersebut yakni Yanggandur, Rawa Biru, Sota, Erambu dan Toray, urum, Waninggap Nanggo dan Matara serta Kampung Buti. 

Pembagian bibit tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menekan inflasi yang terjadi akibat tingginya harga rica, sekaligus mendukung pengembangan perkebunan skala rumah tangga bagi masyarakat petani lokal.

Program ini diharapkan dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan cabai secara mandiri sekaligus menjadi salah satu upaya pemerintah menekan laju kenaikan harga komoditas tersebut.

Baca Juga: Piala Soeratin U17 Papua Selatan Jadi Ajang Seleksi Talenta Muda Menuju Nasional

Namun, pemerintah mengakui keberhasilan program tetap sangat bergantung pada kondisi alam, terutama ketersediaan air. Karena itu, masyarakat yang menerima bibit diprioritaskan mereka yang memiliki sumur atau sumber mata air agar tanaman dapat dirawat selama musim kemarau.(Get)