Merauke – Festival Kali Maro IV Pantai Arafura 2026 resmi dibuka di Kampung Yonggo, Matara, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Kamis, (1/10/2026).
Festival yang mengusung semangat persaudaraan, keberagaman, budaya dan kedaulatan pangan tersebut masuk dalam jajaran 125 event terbaik Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026.
Pembukaan festival ditandai dengan peresmian oleh Asisten Deputi Kementerian Pariwisata, Raden Wisnu M. Sudibjo dengan penabuhan tifa/ kandara sekaligus penyerahan Piagam penghargaan KEN 2026 kepada Direktur Yayasan Kali Maro Bangkit dari Kementerian Pariwisata.
Hadir dalam pembukaan tersebut Wakil Bupati Merauke Fauzun Nihayah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Selatan Paskalis Prayitno, Penggagas Festival Kali Maro Pastor Andreas Fanumbi, Direktur Yayasan Kali Maro Bangkit Jossefine Iriani, jajaran Forkopimda, tokoh agama, tokoh adat serta masyarakat.
Ketua Panitia Festival Kali Maro, Isayas Balagaize, mengatakan Festival Kali Maro 2026 mengangkat tema “Membangun Persaudaraan, Damai dan Sukacita di Kabupaten Merauke dan Provinsi Papua Selatan.”

Tema tersebut diperkuat dengan subtema “Dengan Semangat Izakot Bekai, Izakot Kai dan Bhinneka Tunggal Ika, Kita Wujudkan Kedaulatan Pangan untuk Masyarakat Merauke, Papua Selatan dan Indonesia.”
Isayas mengatakan, tema tersebut menjadi wujud panggilan dan komitmen bersama untuk menjaga persaudaraan serta kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Papua Selatan.
Semangat Izakot Bekai, Izakot Kai, yang dimaknai sebagai satu hati dan satu tujuan, dipadukan dengan nilai Bhinneka Tunggal Ika untuk memperkuat kerukunan antaretnis dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Selain persaudaraan dan budaya, kedaulatan pangan menjadi salah satu pesan penting yang diangkat dalam festival tahun ini.
Isayas mengatakan kekayaan alam Tanah Marind, seperti sagu, pisang, kelapa, ubi-ubian, serta potensi laut, pesisir, rawa dan hutan memiliki peran penting dalam mendukung kemandirian ekonomi sekaligus pemenuhan pangan masyarakat.
“Potensi pangan lokal merupakan dasar utama kemandirian ekonomi, sumber makanan bergizi, serta potensi kesejahteraan bersama bagi masyarakat Merauke, Mappi, Asmat, Boven Digoel, Papua Selatan dan Indonesia,” ujarnya.

Festival Kali Maro 2026 berlangsung selama lima hari, mulai 1 hingga 5 Oktober 2026. Berbagai kegiatan disiapkan, antara lain pementasan kilas sejarah nama Kota Merauke, seni dan budaya lokal Papua Selatan serta budaya Nusantara, olahraga tradisional, pameran ekonomi kreatif dan UMKM, hingga pawai budaya etnis Nusantara.
Pawai budaya dijadwalkan berlangsung Jumat, (2/10/2026) mulai pukul 08.00 WIT dengan melibatkan berbagai paguyuban etnis yang hidup berdampingan di Papua Selatan.
Panitia menargetkan sekitar 2.000 pengunjung hadir dalam festival tahun ini dengan melibatkan hampir 100 pelaku usaha ekonomi kreatif dari Kabupaten Merauke dan kabupaten lainnya di Provinsi Papua Selatan.
Festival Kali Maro 2026 merupakan penyelenggaraan keempat secara berturut-turut sejak pertama kali digelar pada 2023.
Festifal Kali Maro Sebagai Ruang Pertemuan dalam Keberagaman
Penggagas Festival Kali Maro, Pastor Andreas Fanumbi mengatakan, festival tidak hanya diarahkan sebagai perayaan budaya dan pariwisata, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan, persaudaraan dan kebersamaan bagi seluruh masyarakat Papua Selatan.
Bapa Uskup Agung Merauke, lanjut dia, juga berharap festival dapat turut mewartakan misi Kerajaan Allah melalui kehadiran damai sejahtera Kristus bagi seluruh masyarakat Papua Selatan.
“Semangat tersebut kita wujudkan melalui sebuah misi bersama: jadilah pembawa damai,” ujarnya.

Pastor Andreas menegaskan keberagaman budaya, adat istiadat, agama dan latar belakang masyarakat bukan alasan untuk menumbuhkan kebencian. Sebaliknya, keberagaman merupakan kekayaan yang dapat mempererat persaudaraan dan membangun kehidupan bersama yang damai dan sejahtera.
“Hidup berdampingan secara damai walaupun berbeda latar belakang kita masing-masing,” katanya.
Ia menjelaskan, gagasan Festival Kali Maro berangkat dari refleksi sejarah peradaban baru ketika Hati Kudus Yesus diterima oleh para leluhur orang Marind.
Dari refleksi tersebut kemudian dibentuk jejaring melalui Yayasan Kali Maro Bangkit yang mendapat mandat untuk meneruskan penyelenggaraan Festival Kali Maro Pantai Arafura secara berkelanjutan.
Wabup Fauzun: Kali Maro Mengalirkan Kehidupan
Wakil Bupati Merauke Fauzun Nihayah mengapresiasi penyelenggaraan Festival Kali Maro. Menurutnya, festival tersebut bukan sekadar perayaan budaya dan pariwisata, tetapi juga memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Merauke.
“Festival Kali Maro ini tidak hanya sekadar sebuah perayaan, tetapi memiliki nilai dan makna kehidupan yang perlu kita ingat kembali sebagai masyarakat Kabupaten Merauke, khususnya berkaitan dengan sejarah dan peninggalan leluhur kita,” ujarnya.
Fauzun mengatakan Kali Maro memiliki arti penting bagi masyarakat yang berada di sekitarnya.
“Kali Maro tidak hanya sekadar kali yang mengalirkan air, tetapi juga mengalirkan kehidupan bagi masyarakat yang berada di sekitarnya,” katanya.
Ia menilai festival tersebut menjadi momentum untuk memperkuat persatuan masyarakat Merauke yang hidup dalam keberagaman suku, agama, ras dan golongan.
“Kita dapat hidup rukun dan berdampingan. Karena itu, Festival Kali Maro menjadi momentum bagi kita untuk terus memperkuat ikatan masyarakat melalui budaya dan menjaga warisan leluhur yang ada di sekitar Kali Maro,” tuturnya.
Dukungan terhadap Festival Kali Maro juga disampaikan Pemerintah Provinsi Papua Selatan. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Selatan, Paskalis Prayitno, mengatakan Festival Kali Maro merupakan hasil kolaborasi Gereja Katolik, pemerintah provinsi, Pemerintah Kabupaten Merauke dan Yayasan Kali Maro Bangkit.
“Provinsi Papua Selatan berkomitmen untuk melestarikan nilai-nilai budaya yang ada di tanah Provinsi Papua Selatan di empat kabupaten yang ada,” ujarnya.
Menurut Paskalis, setiap kabupaten memiliki kekayaan budaya masing-masing yang perlu diberikan ruang untuk berkembang.
Selain Festival Kali Maro di Merauke, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap Festival Pesta Budaya Asmat, Festival Lima Raja Tifa dan Festival Sejuta Rawa di Kabupaten Mappi.
Terkait masuknya Festival Kali Maro dalam jajaran 125 event terbaik KEN 2026, Paskalis mendorong agar penyelenggaraan festival terus dikembangkan secara lebih masif dan profesional.
“Untuk ke depannya ini mungkin harus kita kembangkan secara masif lagi, lebih baik lagi sehingga event ini benar-benar nantinya menjadi 15 besar event nasional. Kita masih dalam 125 besar di tanah air ini,” ujarnya.
Pemprov Papua Selatan juga mengajak Gereja Katolik, Yayasan Kali Maro Bangkit, pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama membina generasi muda Marind agar menjadi pelaku utama dalam pengembangan budaya daerah.
Kementerian Pariwisata Dorong Festival Jadi Daya Tarik Wisata
Asisten Deputi Kementerian Pariwisata, Raden Wisnu M. Sudibjo, mengatakan masuknya Festival Kali Maro Pantai Arafura dalam jajaran 125 event terbaik KEN 2026 merupakan hasil kurasi dan penetapan Kementerian Pariwisata.
“Pada hari ini, kami berhasil mengkurasi dan menetapkan Festival Kali Maro Pantai Arafura Merauke sebagai salah satu event terbaik di Indonesia yang masuk dalam jajaran 125 Anugerah Event Nusantara,” katanya.
Kementerian Pariwisata, kata Wisnu, akan terus mendorong peningkatan kualitas Festival Kali Maro agar mampu menarik lebih banyak wisatawan nusantara maupun mancanegara ke Merauke.
Promosi festival juga akan dilakukan melalui berbagai pameran pariwisata internasional. Selain itu, Kementerian Pariwisata akan mendorong kerja sama dengan industri pariwisata, travel agent dan tour operator untuk menyusun paket wisata ke Merauke yang terintegrasi dengan pelaksanaan Festival Kali Maro.
“Dengan demikian, diharapkan semakin banyak wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara yang datang berkunjung ke Merauke,” ujarnya.
Wisnu berharap Festival Kali Maro dapat berkembang menjadi flagship program Kabupaten Merauke dan Provinsi Papua Selatan sehingga dampak ekonomi, sosial dan budaya yang dihasilkan semakin besar dan dirasakan masyarakat dari tahun ke tahun.
Ia juga berharap Festival Kali Maro terus berkembang dan masuk dalam jajaran 10 besar event terbaik pada tahun berikutnya.
Baca Juga: Kardinal Mgr. Ignasius Suharyo Akan Resmikan Pelayanan Katolik TNI-Polri di Keuskupan Agung Merauke
Dalam kesempatan tersebut, Kementerian Pariwisata menyerahkan piagam penghargaan atas masuknya Festival Kali Maro Pantai Arafura dalam jajaran 125 event terbaik KEN 2026.(Get)








0 Komentar
Komentar tidak ada