Berita Utama

Armada Tangki Terbatas, Antrean Permintaan Meningkat di PDAM Merauke

Merauke - Keterbatasan armada tangki menjadi tantangan dalam memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, terutama saat puncak musim kemarau.

Direktur Perumda Air Minum Jereukom, Bambang Sudji mengatakan, saat ini PDAM yang dipimpinnya itu memiliki tiga unit armada tangki. Satu unit dibeli menggunakan anggaran perusahaan, sedangkan dua unit lainnya merupakan hibah dari Dinas Pekerjaan Umum sejak 2002.

Dari tiga unit tersebut, hanya dua yang masih dapat beroperasi. Satu unit lainnya mengalami kerusakan pada bagian sasis meskipun telah beberapa kali diperbaiki.

“Sasisnya sudah patah dan kondisinya tidak memungkinkan lagi untuk beroperasi. Saat ini kendaraan tersebut sudah sekitar dua minggu berada di bengkel untuk direhabilitasi,” jelasnya, Kamis, (15/10/2026) .

Dengan usia kendaraan yang hampir 24 tahun, pengadaan armada baru dinilai perlu mendapat perhatian pemerintah daerah.

Menurutnya, kebutuhan pelayanan air bersih meningkat tajam pada puncak musim kemarau. Berbeda dengan musim hujan, ketika persediaan air relatif lebih tersedia, musim kemarau membuat beban pelayanan distribusi air melalui tangki menjadi jauh lebih berat.

Keterbatasan armada juga menyebabkan Perumda tidak dapat membuka pendaftaran layanan air tangki setiap hari.

“Kalau kami membuka pendaftaran satu hari saja, dalam hitungan jam sudah ada sekitar 130 orang yang mendaftar. Karena armada terbatas, kami harus menyelesaikan permintaan yang sudah masuk terlebih dahulu sebelum membuka pendaftaran berikutnya,” ungkapnya.

Jaringan Perpipaan Perlu Direvitalisasi

Bambang menambahkan, persoalan pelayanan air bersih tidak hanya terjadi pada distribusi menggunakan mobil tangki, tetapi juga pada jaringan perpipaan yang melayani pelanggan.

Menurutnya, sistem perpipaan yang digunakan saat ini dirancang puluhan tahun lalu, ketika jumlah penduduk Merauke masih jauh lebih sedikit dibandingkan sekarang.

Pada puncak musim kemarau, volume air yang masuk dari intake Rawa Biru tidak sebanding dengan kebutuhan pemakaian masyarakat. Akibatnya, pengisian air di reservoir, termasuk Reservoir Muli dan Reservoir Indo, membutuhkan waktu lebih lama sebelum air dapat dipompa menuju stasiun pompa dan blok-blok pelayanan yang telah ditentukan.

Dalam kondisi normal, proses pemompaan dapat berlangsung sekitar empat jam. Namun, saat ketersediaan air terbatas, pemompaan terkadang hanya dapat berlangsung sekitar satu setengah hingga dua jam sebelum harus dihentikan untuk menunggu ketersediaan air kembali.

Situasi tersebut berdampak pada pelanggan yang tinggal jauh dari stasiun pompa. Sebagian pelanggan tidak memperoleh aliran air, sementara pelanggan lainnya mengalami tekanan air yang melemah akibat tingginya penggunaan air secara bersamaan.

“Merauke sekarang sudah jauh berbeda dibandingkan 20 sampai 25 tahun lalu. Penduduk semakin banyak dan permukiman berkembang ke wilayah-wilayah yang kondisi sumber airnya kurang baik,” katanya.

Ia mencontohkan sejumlah kawasan, seperti Kali Weda, Nusabarong, dan Natuna, yang menurutnya perlu menjadi perhatian dalam perencanaan pengembangan jaringan air bersih.

Karena itu, ia berharap pemerintah kabupaten dapat berkolaborasi dengan pemerintah provinsi maupun Kementerian Pekerjaan Umum untuk mendukung revitalisasi jaringan perpipaan agar kapasitas pelayanan sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Baca Juga: Sambut Hari Pangan Sedunia, Pemkab Merauke Gelar Gerakan Pangan Murah Selama Dua Hari

Ia juga menegaskan bahwa Perumda pada dasarnya bertugas mengoperasikan layanan air minum, sedangkan dukungan pembiayaan dan pembangunan infrastruktur perlu melibatkan pemerintah daerah sesuai kewenangannya.(Get)