Berita Utama

Prediksi BMKG Tentang Musim Kemarau Tahun 2026 di Papua Selatan

Merauke - Stasiun Klimatologi Kelas IV Papua Selatan menyampaikan prediksi awal musim kemarau tahun 2026 di wilayah Papua Selatan yang diperkirakan mulai terjadi pada Mei 2026 dengan puncak musim kemarau pada Agustus.

Kepala Staklim Papua Selatan Marsildus Keytimu dalam keterangannya via zoom, Kamis, (12/3/2026) mengatakan awal musim kemarau di Kabupaten Merauke diprediksi terjadi pada Mei dasarian II di beberapa distrik seperti Merauke, Semangga, Sota dan Naukenjerai.

Sementara itu, pada Mei dasarian III musim kemarau diperkirakan mulai terjadi di distrik Muting, Elikobel, Ngguti, Ilwayab, Kaptel, Waan, Tubang, Tabonji, Kimaam, Okaba, Malind, Kurik, Jagebob dan Tanah Miring. Kondisi yang sama juga diperkirakan terjadi di beberapa wilayah Kabupaten Mappi seperti Syahcame, Bamgi, Edera, Nambioman Bapai dan Yakomi.

Jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologi periode 1991–2020, awal musim kemarau tahun 2026 diprediksi maju satu dasarian di Zona Musim (ZOM) Papua Selatan 10 yang mencakup wilayah Kabupaten Mappi (Syahcame, Bamgi, Edera, Nambioman Bapai, Yakomi) serta sebagian wilayah Kabupaten Merauke seperti Ilwayab, Ngguti, Kaptel, Muting dan Elikobel.

Sementara itu, awal musim kemarau diperkirakan mundur satu dasarian di dua ZOM yaitu Papua Selatan 11 dan 12 yang meliputi wilayah Waan, Tubang, Tabonji, Kimaam, Okaba, Kurik, Malind, Jagebob dan Tanah Miring. Sedangkan untuk ZOM Papua Selatan 13 yang mencakup distrik Merauke, Sota, Naukenjerai dan Semangga, waktu awal musim kemarau diprediksi sama dengan rata-rata klimatologinya.

Untuk sifat hujan selama musim kemarau 2026, BMKG memprediksi terdapat satu ZOM yang mengalami kondisi bawah normal, yaitu ZOM Papua Selatan 10 yang meliputi wilayah Merauke bagian utara dan Mappi bagian selatan. Sementara tujuh ZOM lainnya diperkirakan memiliki sifat hujan normal, meliputi sebagian besar wilayah Asmat, Boven Digoel, Merauke dan Mappi.

Marsildus juga menjelaskan bahwa puncak musim kemarau 2026 di wilayah Papua Selatan diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 di delapan ZOM, yaitu Papsel 4, 7, 8, 9, 10, 11, 12 dan 13 yang mencakup wilayah Kabupaten Asmat, Mappi, Boven Digoel dan Merauke.

Sementara dari sisi durasi musim kemarau, wilayah ZOM Papua Selatan 10 diprediksi mengalami musim kemarau selama 10-12 dasarian atau sekitar 3-4 bulan. ZOM Papua Selatan 11 dan 12 diperkirakan berlangsung 16-18 dasarian atau sekitar 5-6 bulan, sedangkan ZOM Papua Selatan 13 diprediksi memiliki durasi paling panjang yaitu 19-21 dasarian atau sekitar 6-7 bulan.

BMKG juga memberikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi musim kemarau 2026.

Pada sektor pangan, masyarakat diimbau menyesuaikan jadwal tanam di wilayah yang diprediksi memasuki musim kemarau pada Mei 2026. Selain itu, petani juga dianjurkan memilih varietas tanaman yang tahan kekeringan serta mengoptimalkan pengelolaan air, khususnya di wilayah yang diperkirakan mengalami sifat hujan di bawah normal.

Untuk sektor kebencanaan, pemerintah daerah dan masyarakat diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi dampak puncak musim kemarau, terutama di daerah yang rawan kekeringan dan potensi munculnya titik panas (hotspot) yang dapat memicu kebakaran lahan.

Di sektor sumber daya air, BMKG mengingatkan bahwa musim kemarau tidak berarti tidak terjadi hujan sama sekali. Potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat dan angin kencang masih dapat terjadi sewaktu-waktu. Karena itu masyarakat diimbau mengoptimalkan sumber air alternatif, seperti mengisi tampungan air serta memastikan distribusi air berjalan efektif selama musim kemarau.

Sementara pada sektor kesehatan, masyarakat diminta memperhatikan ketersediaan air bersih terutama di wilayah dengan sifat hujan di bawah normal. Selain itu, perlu mewaspadai potensi penyakit yang sering muncul pada musim kemarau seperti ISPA, radang tenggorokan, dehidrasi dan iritasi kulit akibat cuaca panas.

Baca Juga: PLN dan BPS Sinkronkan Data Pelanggan Listrik untuk Perkuat Akurasi Data Sosial Ekonomi Nasional

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk selalu memperbarui informasi cuaca dan iklim wilayah Papua Selatan melalui berbagai media diseminasi Stasiun Klimatologi Kelas IV Papua Selatan.(Get)