Merauke - Musim kemarau yang melanda hampir seluruh wilayah sentra pertanian Merauke menyebabkan lahan pertanian mengalami kekeringan. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan hasil panen, bahkan memicu gagal panen di sejumlah lokasi.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Merauke, Josefa Rumaseuw mengatakan saat ini Kabupaten Merauke tengah memasuki musim tanam (MT) III tahun 2026. Curah hujan dalam tiga bulan terakhir terjadi secara lokal dan tidak merata, sehingga sebagian besar lahan pertanian yang telah ditanami mengalami kekurangan air.
"Di SP 8 sudah ada laporan sekitar lima hektare lahan berpotensi gagal panen akibat kekeringan," ujarnya, Rabu, (29/7/2026).
Untuk mengurangi dampak kekeringan, pemerintah daerah bersama Balai Wilayah Sungai (BWS), Dinas PUPR, dan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) melakukan berbagai langkah mitigasi.
Upaya tersebut di antaranya menyiapkan pompa air serta merehabilitasi saluran irigasi yang masih memiliki sumber air untuk mengairi lahan pertanian.
Meski demikian, rehabilitasi jaringan irigasi belum dapat menjangkau seluruh wilayah sehingga penanganan dilakukan secara bertahap.
Selain itu, dinas juga terus menempatkan pompa air di lokasi-lokasi yang membutuhkan guna menjaga ketersediaan air selama musim kemarau berlangsung.
Ia menjelaskan, pada musim tanam ketiga hampir seluruh lahan yang memungkinkan untuk ditanami padi tetap dimanfaatkan.
"Sumber air menjadi faktor utama dalam pelaksanaan musim tanam ketiga. Karena itu kami terus memantau kondisi di berbagai wilayah seperti Muram Sari dan Waninggap, yang saat ini masih memiliki air, namun tetap perlu diantisipasi karena ketersediaannya diperkirakan akan terus menurun," katanya.
Baca Juga: Pemkab Merauke Dorong Peningkatan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah Daerah
Pemerintah daerah pun terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan musim tanam dan kondisi irigasi agar dampak kekeringan terhadap produksi pertanian dapat ditekan semaksimal mungkin.(Get)








0 Komentar
Komentar tidak ada