Berita Utama

Tim Ekspedisi Patriot UGM Uji Coba Padi Gamagora di Lahan Tadah Hujan Muting

Merauke – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 1 Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan uji coba demplot padi varietas Gamagora di Kampung Bouwer, Distrik Elikobel, Kawasan Transmigrasi (KT) Muting, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong peningkatan produktivitas pertanian sekaligus mentransfer pengetahuan dan praktik budidaya pertanian kepada masyarakat setempat.

KT Muting telah menjadi tempat tinggal masyarakat transmigran dari berbagai daerah, terutama dari Pulau Jawa, sejak sekitar 1990. Setelah berkembang lebih dari tiga dekade, kawasan tersebut kini memiliki potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan.

Dukungan kondisi alam menjadi salah satu modal penting bagi pengembangan pertanian di Muting. Curah hujan yang relatif tinggi serta kondisi tanah yang cukup subur memungkinkan berbagai jenis tanaman, baik tanaman asli Papua maupun tanaman yang dibawa dari daerah lain, tumbuh dengan baik.

Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan produktivitas pertanian yang optimal, salah satunya pada komoditas padi.

Berdasarkan informasi masyarakat setempat, hasil panen padi saat ini rata-rata hanya sekitar 2 ton per hektare per musim dalam bentuk gabah kering panen (GKP). Padahal, potensi produktivitas padi dapat mencapai sekitar 8 ton per hektare per musim.

Selain produktivitas yang masih rendah, sebagian besar petani di kawasan Muting juga baru melakukan penanaman padi satu kali dalam setahun. Kondisi ini menyebabkan hasil produksi umumnya masih sebatas memenuhi kebutuhan pangan keluarga dan belum memberikan nilai ekonomi yang maksimal bagi masyarakat.

Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan antara potensi lahan dengan hasil produksi padi. Karena itu, peningkatan produktivitas menjadi penting, tidak hanya untuk memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan dan perekonomian masyarakat di kawasan transmigrasi.

Untuk menjawab persoalan tersebut, diperlukan identifikasi menyeluruh terhadap berbagai faktor yang memengaruhi produksi padi, termasuk kondisi dan kesesuaian lahan serta praktik budidaya yang selama ini diterapkan petani.

Hasil identifikasi awal menunjukkan bahwa teknik budidaya dan kualitas bibit padi menjadi sejumlah faktor yang diduga berpengaruh terhadap belum optimalnya hasil produksi.

Sebagai langkah lanjutan, TEP 1 UGM melakukan uji coba demplot padi Gamagora di Kampung Bouwer. Tim tersebut dipimpin Chandra Setyawan, S.T.P., M.Eng., Ph.D., dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian UGM bidang sumber daya lahan dan air.

Tim juga beranggotakan Tri Ariani, S.T.P. bidang ekonomi pertanian, Khulaimi, S.P. bidang agronomi, Ilham Mubarok, S.T.P. bidang sumber daya air dan perkebunan, Ariqonitahanif Putri Rahim, S.Si. bidang geografi dan pemetaan lahan, serta Fariz Jordan Fadillah, S.Pt., M.Sc. bidang peternakan.

TEP 1 merupakan salah satu dari 20 tim yang diterjunkan UGM di KT Muting untuk mendukung program “Pengembangan Kawasan Transmigrasi Produktif di Muting, Kabupaten Merauke, Papua Selatan melalui Implementasi Ekonomi Hijau Berbasis Pengelolaan Sumber Daya Lahan dan Air” dengan melibatkan masyarakat setempat.

Uji coba padi Gamagora dilakukan dengan menyesuaikan kondisi wilayah Muting melalui sistem tabela atau tanam benih langsung, yang selama ini telah umum diterapkan masyarakat.

Kondisi topografi Muting yang relatif bergelombang serta sejumlah sungai yang mudah mengering membuat pertanian tadah hujan menjadi salah satu pilihan utama masyarakat.

Kampung Bouwer dipilih sebagai lokasi demplot karena memiliki ketersediaan air permukaan yang relatif baik, baik dari cekungan alami maupun penampungan air buatan memanjang atau long storage yang dibangun pemerintah setempat.

Gamagora sendiri merupakan varietas padi unggul yang dikembangkan oleh tim peneliti Fakultas Pertanian UGM. Dengan sistem tabela, padi Gamagora diperkirakan membutuhkan waktu panen sekitar 100–120 hari setelah tanam.

Penanaman Gamagora dilakukan pada Minggu, 23 Agustus 2026, oleh TEP UGM bersama masyarakat dan sejumlah tokoh setempat, termasuk kepala kampung dan ketua kelompok tani.

Uji coba tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produktivitas padi dibandingkan varietas lokal, tetapi juga menjadi sarana transfer pengetahuan mengenai teknik dan praktik budidaya pertanian yang baik kepada masyarakat.

Dalam demplot tersebut terdapat tiga perlakuan pada tanaman padi. Pertama, perlakuan kontrol dengan menanam varietas lokal Dodok Erok dan Gamagora menggunakan cara serta praktik konvensional yang biasa dilakukan masyarakat setempat.

Kedua, perlakuan penambahan bahan organik sebagai pembenah tanah pada varietas Gamagora untuk meningkatkan sekaligus mempertahankan kandungan lengas tanah (soil moisture) dalam waktu yang lebih lama.

Ketiga, perlakuan penambahan bahan organik dengan menerapkan konsep System of Rice Intensification (SRI) melalui pemberian irigasi secara intermiten sesuai kebutuhan air tanaman.

Melalui pemodelan kebutuhan air tanaman, tim akan mengetahui durasi penyiraman irigasi yang optimal sehingga tanaman padi tidak mencapai kondisi titik layu permanen dan dapat menghasilkan produktivitas yang optimal.

Berdasarkan komunikasi TEP 1 UGM KT Muting dengan Ir. Supriyanta, M.P., dosen Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian UGM sekaligus peneliti dan pemulia (breeder) padi varietas Gamagora 7, varietas tersebut dinilai cocok dikembangkan di lahan pertanian tadah hujan.

Gamagora telah menunjukkan hasil yang baik dalam uji coba di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), sehingga diharapkan dapat memberikan hasil serupa ketika dikembangkan dengan menyesuaikan kondisi lahan dan pola budidaya di Muting.

Demplot padi Gamagora ini merupakan bagian dari demplot terpadu tanaman pangan, pakan ternak, dan konservasi air yang dikembangkan pada area seluas 2.500 meter persegi di Muting.

Demplot terpadu tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi pangan, tetapi juga mendukung ketersediaan pakan ternak, efisiensi pemanfaatan air, serta keberlanjutan lahan pertanian.

Program ini menjadi bagian dari penerapan konsep ekonomi hijau di KT Muting dengan mengintegrasikan sektor pangan, peternakan, dan lingkungan.

Inisiatif tersebut sekaligus mendukung pencapaian SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penguatan ketahanan pangan, SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) melalui pengelolaan air berkelanjutan, serta SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui konservasi tanah dan pengelolaan lahan secara berkelanjutan.

Konservasi air dinilai penting untuk mengoptimalkan pemanenan air hujan sehingga pengisian air tanah dapat berlangsung lebih optimal dan sumber air permukaan untuk pertanian tetap tersedia sepanjang musim kemarau.

Dengan ketersediaan air permukaan yang optimal, budidaya padi diharapkan dapat dilakukan hingga dua kali dalam setahun. Selain padi, ketersediaan air juga berperan penting dalam mendukung pengembangan komoditas perkebunan dan peternakan, termasuk penyediaan pakan ternak yang mencukupi.

Respons masyarakat setempat terhadap program tersebut, khususnya demplot terpadu, sangat positif. Hal ini terlihat dari partisipasi aktif masyarakat dan tokoh-tokoh setempat dalam pelaksanaan kegiatan.

Melalui uji coba tersebut, TEP UGM berharap potensi lahan pertanian di KT Muting dapat dioptimalkan melalui penerapan teknologi, perbaikan teknik budidaya, pengelolaan air yang tepat, serta penguatan kapasitas masyarakat.

Baca Juga: Dishub Papua Selatan Libatkan Pemangku Kepentingan Siapkan Harhubnas 2026

Jika hasil demplot menunjukkan peningkatan produktivitas, model budidaya tersebut diharapkan dapat dikembangkan lebih luas untuk mendukung Muting sebagai salah satu kawasan produksi pangan potensial di Papua Selatan.(Get)