Merauke - Kasus kekurangan gizi maupun gizi buruk di wilayah perkotaan Merauke menunjukkan perkembangan positif. Penurunan kasus tercatat dari tahun ke tahun, didukung berbagai program pemerintah dalam penanganan gizi ibu hamil, bayi, dan balita.
Kepala Puskesmas Mopah Merauke, apt. Severina SH Wiratwanti, mengatakan kondisi penanganan gizi di wilayah kota sejauh ini cukup baik.
“Kalau kita di dalam kota, cukup baik capaiannya. Ada penurunan kasus dari tahun ke tahun,” kata Severina, Jumat, (18/9/2026).
Ia menjelaskan, capaian tersebut turut didukung program pemerintah melalui Bantuan Operasional Khusus Kesehatan (BOK) untuk penanganan gizi ibu hamil, bayi, dan balita, serta dukungan dana Otonomi Khusus (Otsus).

Pelayanan edukasi obat cacing di SD YPPK St Agustinus Merauke dalam rangka bulan pemberian obat cacing untuk peningkatan status gizi anak
Menurutnya, keterlibatan kader posyandu menjadi salah satu faktor penting dalam pelaksanaan program tersebut. Kader tidak hanya membantu menyiapkan makanan bergizi, tetapi juga berperan dalam pendistribusiannya kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Ini semua keterlibatan kader posyandu. Mereka yang berperan baik dalam menyiapkan sampai dengan pendistribusian ke masyarakat yang membutuhkan,” jelasnya.
Severina menerangkan, para kader sebelumnya diberikan pelatihan mengenai cara menyiapkan makanan dengan memperhatikan pemenuhan kebutuhan gizi. Setelah itu, kader bertugas berbelanja bahan makanan, mengolah, hingga mengantarkannya kepada sasaran penerima manfaat.
Setiap pelaksanaan kegiatan juga disertai pertanggungjawaban penggunaan anggaran, termasuk rincian biaya belanja yang telah disesuaikan dengan pagu anggaran.
“Data dari kami, kader diberi pelatihan menyiapkan makanan dengan diajarkan bagaimana pemenuhan gizinya. Mereka belanja, mereka mengolah dan mengantarkan ke masyarakat,” ujarnya.

Kelas ibu hamil Puskesmas Mopah Baru Merauke
Ia menambahkan, pelaksanaan program sejauh ini berjalan baik. Dengan jumlah sasaran yang relatif kecil, keamanan pangan dapat lebih terjaga sehingga program memberikan dampak terhadap peningkatan status gizi ibu, bayi, dan balita.
Meski demikian, Severina mengakui masih terdapat kendala dalam pelaksanaan program, terutama ketika makanan tambahan yang diberikan kepada satu penerima manfaat turut dikonsumsi anggota keluarga lainnya.
“Misalnya dalam satu keluarga yang dapat hanya ibu hamilnya, tetapi karena ada anak-anaknya atau suami, akhirnya makanan juga harus sharing dengan yang lain. Itu yang menghambat pencapaian hasil,” ungkapnya.
Baca Juga: Antusias Masyarakat Tinggi, Bapenda Optimistis PBB Capai Target Rp31 Miliar
Ia berharap pelaksanaan program penanganan gizi dapat terus ditingkatkan sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh ibu hamil, bayi, dan balita yang menjadi sasaran utama.(Get)








0 Komentar
Komentar tidak ada