Merauke - Ketersediaan pakan ternak yang terbatas menjadi salah satu tantangan bagi pengembangan peternakan di Kawasan Transmigrasi (KT) Muting, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Menjawab persoalan tersebut, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 1 Universitas Gadjah Mada (UGM) mendorong penguatan sektor peternakan melalui pengembangan sumber hijauan pakan, salah satunya dengan mengenalkan dan menanam rumput unggul Gama Umami.
TEP 1 UGM merupakan salah satu tim yang ditempatkan dalam Program Ekspedisi Patriot di Kawasan Transmigrasi Muting. Tim ini dipimpin Chandra Setyawan, S.T.P., M.Eng., Ph.D., bersama anggota Tri Ariani, S.T.P., Khulaimi, S.P., Ilham Mubarok, S.T.P., Ariqonitahanif Putri Rahim, S.Si., dan Fariz Jordan Fadillah, S.Pt., M.Sc.
Dengan latar belakang keilmuan yang beragam, tim tersebut mengembangkan pendekatan yang mengintegrasikan berbagai aspek, mulai dari pertanian, agronomi, sumber daya air, pemetaan wilayah, ekonomi, hingga peternakan.
Sektor peternakan menjadi salah satu potensi yang mendapat perhatian khusus dalam pelaksanaan program di KT Muting. Wilayah tersebut dinilai memiliki potensi pengembangan ternak sapi dan ayam yang cukup menjanjikan, didukung ketersediaan lahan yang masih luas dan belum dimanfaatkan secara optimal.
Kondisi geografis KT Muting yang didominasi lahan terbuka juga mendukung aktivitas pemeliharaan ternak secara ekstensif. Namun, pola pemeliharaan yang masih dilakukan secara tradisional belum sepenuhnya diimbangi dengan pengelolaan pakan yang terencana.

Salah satu subsektor yang menjadi perhatian adalah sapi potong. Masyarakat umumnya memelihara sapi secara individual dengan jumlah sekitar tiga hingga empat ekor per peternak. Jenis sapi yang banyak dipelihara adalah sapi Bali, sementara sistem pemeliharaan masih didominasi pola umbaran, yakni ternak dilepas untuk mencari pakan sendiri di area penggembalaan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan dan kontinuitas pakan menjadi faktor penting dalam pengembangan peternakan di Muting.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Merauke, Distrik Elikobel memiliki populasi sapi potong yang cukup besar, yakni sekitar 4.078 ekor pada 2024. Besarnya populasi tersebut menjadi salah satu pertimbangan TEP 1 UGM dalam menentukan lokasi pengembangan sumber pakan.
Salah satu lokasi yang dipilih adalah Kampung Boewer, Distrik Elikobel. Selain memiliki potensi ternak sapi yang cukup besar, kampung tersebut juga memiliki kelompok peternak yang aktif sehingga dinilai strategis sebagai lokasi percontohan pengembangan sumber pakan.
Sebagai langkah awal, TEP 1 UGM melaksanakan penanaman rumput Gama Umami pada 2 September 2026 di Kampung Boewer. Penanaman dilakukan melalui demplot (demonstration plot) atau lahan percontohan untuk memperkenalkan sekaligus memperagakan pemanfaatan Gama Umami sebagai sumber hijauan pakan ternak kepada masyarakat.
Gama Umami merupakan rumput unggul yang dikembangkan oleh tim peneliti Fakultas Peternakan UGM yang diketuai Prof. Ir. Nafiatul Umami, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., ASEAN Eng. Rumput tersebut diarahkan sebagai sumber hijauan pakan ternak berkualitas yang dapat dikembangkan oleh masyarakat.
Melalui demplot tersebut, masyarakat dapat melihat secara langsung proses penanaman dan pengembangan hijauan pakan. Selanjutnya, model tersebut diharapkan dapat direplikasi secara mandiri pada lahan-lahan lain di sekitar kampung.
Pengembangan Gama Umami tidak hanya diarahkan untuk menyediakan hijauan pakan, tetapi juga membangun pola pengelolaan pakan yang lebih terencana sehingga peternak tidak sepenuhnya bergantung pada sistem penggembalaan.
“Pengembangan Gama Umami tidak hanya diarahkan pada penanaman rumput, tetapi juga bagaimana pakan tersebut dapat dikelola secara berkelanjutan dan mudah dimanfaatkan oleh peternak,” ujar Fariz Jordan Fadillah, S.Pt., M.Sc., anggota TEP 1 UGM yang berfokus pada bidang peternakan.
Demplot Gama Umami tersebut selanjutnya akan dikembangkan melalui konsep Bank Pakan Ternak. Konsep ini diarahkan sebagai sistem penyediaan dan penyimpanan cadangan pakan yang dapat dimanfaatkan peternak ketika ketersediaan hijauan di lapangan menurun, terutama pada musim kemarau atau ketika area penggembalaan mulai terbatas.

Dengan adanya sumber pakan yang ditanam dan dikelola secara kolektif oleh kelompok peternak, masyarakat diharapkan memiliki alternatif dalam memenuhi kebutuhan pakan ternak tanpa sepenuhnya mengandalkan rumput alami di area penggembalaan.
Pengembangan Bank Pakan Ternak juga menjadi bagian dari pendekatan ekonomi hijau yang dikembangkan TEP 1 UGM di Kawasan Transmigrasi Muting. Pengembangan peternakan tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi ternak, tetapi juga dikaitkan dengan pengelolaan lahan, air, dan pakan secara berkelanjutan.
Melalui demplot Gama Umami dan pengembangan konsep Bank Pakan Ternak, TEP 1 UGM berharap dapat menghadirkan model percontohan yang sederhana, aplikatif, dan mudah direplikasi oleh masyarakat.
Baca Juga: Sambut HUT ke 163, SMP YPK Merauke Tanamkan Pendidikan Karakter dan Kepedulian Sosial
Ke depan, pendekatan tersebut diharapkan mampu memperkuat kemandirian pakan peternak lokal, meningkatkan produktivitas peternakan di Kawasan Transmigrasi Muting, sekaligus mendorong pengembangan ekonomi masyarakat secara lebih luas dan berkelanjutan.(Get)








0 Komentar
Komentar tidak ada