Berita Utama

Empat Bulan Tanpa Curah Hujan, Debit Rawa Biru Merauke Turun Hingga 3,9 Meter

Merauke - Debit air di Rawa Biru yang merupakan sumber utama air baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Merauke, mengalami penurunan cukup signifikan akibat tidak adanya hujan dalam beberapa bulan terakhir.

Berdasarkan alat ukur yang berada di Intake Rawa Biru, ketinggian muka air hingga Kamis (24/9/2026) tercatat sekitar 3,90 meter. Angka tersebut menurun dibandingkan kondisi normal yang dapat mencapai sekitar 5 hingga 6 meter.

“Bukan sedikit, cukup banyak. Dari alat ukur kita, yang biasanya sampai lima atau enam meter, sekarang posisi kemarin kedalaman 3,90 meter,” ujar Direktur PDAM Merauke, Bambang Sudji, Jumat, (25/9/2026). 

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi terus menurun apabila dalam beberapa bulan ke depan belum terjadi hujan. Pasalnya, Rawa Biru merupakan kawasan tampungan air yang mengandalkan curah hujan sebagai sumber utama pasokan air.

“Kalau dalam beberapa bulan ke depan ini tidak ada hujan, pasti terus menurun. Karena sudah empat bulan belakangan ini tidak ada hujan, jadi memang tidak ada air yang masuk ke sana,” jelasnya.

Penurunan debit tersebut mulai berdampak terhadap proses distribusi air kepada masyarakat. PDAM masih melakukan pemompaan secara rutin, namun volume air yang masuk dari Intake Rawa Biru menuju Reservoir Muli tidak sebanding dengan kebutuhan pelanggan.

“Antara air yang masuk dari Intake Rawa Biru ke Reservoir Muli dengan yang kita pompa ke pelanggan itu tidak seimbang. Lebih banyak permintaan daripada air yang masuk,” katanya.

Kondisi itu membuat PDAM terkadang harus menunggu hingga volume air di Reservoir Muli mencukupi sebelum kembali memompa air ke pelanggan. Terlebih, kebutuhan air masyarakat meningkat selama musim panas.

Saat ini, PDAM Merauke melayani sekitar 3.200 sambungan pelanggan. Dengan keterbatasan ketersediaan air baku, durasi pelayanan di sejumlah wilayah juga ikut terdampak.

“Kadang jadwalnya empat jam di salah satu blok, tapi sekarang hanya satu setengah jam karena ketersediaan kita kurang,” ungkapnya.

Ia menilai kondisi tersebut juga berkaitan dengan perkembangan Kota Merauke. Infrastruktur jaringan air yang menghubungkan Intake Rawa Biru hingga wilayah perkotaan telah dibangun sejak sekitar 1980-an dan belum seluruhnya menyesuaikan dengan perkembangan kebutuhan masyarakat saat ini.

Selain itu, sejumlah kawasan yang sebelumnya berfungsi sebagai daerah resapan air kini telah berkembang menjadi kawasan permukiman.

“Dulu daerah-daerah yang dijadikan daerah resapan untuk Kota Merauke seperti Kali Weda dan Natuna, sekarang sudah penuh dengan pemukiman penduduk. Di situ juga dibutuhkan air,” jelasnya.

Sementara itu, alternatif pemanfaatan air dari sumur belum dapat menjadi solusi karena kondisi sumber air tanah di Merauke juga terbatas. Untuk itu penting bagi masyarakat untuk lebih hemat dalam pemakaian air bersih. 

“Kalau sumur kita tidak ada. Karena sumur di Merauke ini rata-rata sudah tidak mencukupi, kering,” pungkasnya.

Baca Juga: Bahas Raperda ABPD Perubahan 2026, Papua Selatan Target PAD Sebesar Rp1 Triliun Lebih

PDAM Merauke akan terus melakukan pemantauan debit air secara berkala setiap pekan, untuk mengetahui perkembangan kondisi muka air di Intake Rawa Biru di tengah musim kemarau yang masih berlangsung.(Get)