Berita Utama

Festival Kali Maro Libatkan 80 UMKM dan Empat Kabupaten

Merauke - Festival Kali Maro IV di Dusun Sirapu, Kampung Urum, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Rabu (1/10/2026), melibatkan 80 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta masyarakat dari empat kabupaten di Papua Selatan.

Penyelenggara Festival Kali Maro, Jossefine Iriani Kewamijai, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan budaya Malind sekaligus mendorong peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya Orang Asli Papua (OAP).

Opening ceremony Festival Kali Maro tahun ini melibatkan Kementerian Pariwisata RI, Pemerintah Provinsi Papua Selatan, Pemerintah Kabupaten Merauke, serta masyarakat dari sejumlah kampung di sekitar Distrik Semangga.

Ia menyebut persiapan hari pertama berjalan baik. Cuaca yang cerah turut mendukung pelaksanaan kegiatan, sementara antusiasme masyarakat dari tiga kampung di sekitar Distrik Semangga juga cukup tinggi.

“Untuk UMKM yang terdata di penyelenggara atau panitia sebanyak 80 UMKM dan juga ada keterlibatan dari tiga kabupaten, yaitu Mappi, Asmat, dan Boven Digoel,” katanya.

Dikatakan, Festival Kali Maro memberikan perhatian khusus terhadap keterlibatan OAP sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal. Namun, festival tetap terbuka bagi masyarakat dari berbagai latar belakang etnis.

“Kami berfokus kepada Orang Asli Papua untuk meningkatkan ekonomi, khususnya Orang Asli Papua dalam festival ini. Namun kami tidak membatasi etnis Nusantara untuk bergabung untuk meramaikan festival ini,” jelas Jossefine di lokasi kegiatan. 

Beragam produk UMKM dipasarkan dalam festival tersebut, mulai dari olahan pangan lokal seperti keripik pisang, keripik ubi, sagu, minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil (VCO), ikan asin, hingga kerajinan tangan berupa noken, gantungan kunci, perhiasan berbahan lokal, dan berbagai produk lainnya.

Valeria Olah Kelapa Lokal Jadi VCO dan Keripik

Salah satu pelaku UMKM yang memanfaatkan potensi pangan lokal adalah Valeria Muti Gebse (26), warga Kampung Urum. Ia mulai mengembangkan usaha dengan mengolah kelapa menjadi produk bernilai ekonomi.

Dalam Festival Kali Maro IV, Valeria memperkenalkan produk olahannya berupa minyak kelapa murni atau VCO dan keripik dengan merek Mayo Iwak.

Valeria mengatakan, VCO diproduksinya secara mandiri dengan memanfaatkan kelapa tua yang telah kering.

“Kelapanya diparut, kemudian diperas. Santannya dijemur sampai terpisah, setelah itu minyak VCO-nya diambil,” kata Valeria.

Dalam sekali produksi, ia menggunakan sekitar 50 butir kelapa untuk menghasilkan sekitar 10 botol VCO. Menariknya, bahan baku utama tersebut berasal dari kebun miliknya sendiri sehingga tidak perlu membeli kelapa untuk menjalankan produksi.

Valeria mengaku baru mulai menggeluti usaha tersebut dan belajar membuat VCO secara otodidak.

Sementara produk keripik juga dibuat sendiri. Bahkan, keripik yang dibawanya dalam festival merupakan produk yang baru dibuat pada malam sebelumnya.

“Keripik baru dibikin tadi malam,” katanya.

Menurut Valeria, pilihan memproduksi VCO dan keripik karena proses pembuatannya relatif mudah dan bahan bakunya tersedia di lingkungan sekitar.

VCO, kata dia, dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, seperti dikonsumsi, perawatan rambut, dan minyak pijat. Sementara minyak kelapa juga dapat digunakan untuk kebutuhan memasak.

Ia berharap usaha yang baru dirintis tersebut dapat berkembang dan produknya semakin dikenal masyarakat melalui Festival Kali Maro.

Valeria juga mengajak masyarakat, khususnya OAP, untuk memanfaatkan pangan lokal yang tersedia di sekitar mereka. Menurutnya, berbagai bahan pangan seperti kelapa dan pisang dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

Ia mengatakan sejumlah warga lainnya juga telah memanfaatkan pangan lokal untuk usaha, termasuk mengolah ikan menjadi ikan asin.

“Padahal kita punya pangan sendiri. Buah kelapanya punya sendiri, pisangnya juga punya sendiri. Harusnya itu dimudahkan untuk bisa melakukan banyak hal,” katanya.

Untuk pemasaran, Valeria mengaku produknya masih dipasarkan secara terbatas. Keikutsertaannya dalam Festival Kali Maro menjadi salah satu kesempatan untuk memperkenalkan produknya secara langsung kepada masyarakat.

Ke depan, ia berharap produk Mayo Iwak dapat dipasarkan lebih luas, termasuk melalui toko dan kios di Kota Merauke.

Festival Kali Maro tahun ini merupakan penyelenggaraan keempat sekaligus menjadi tahun perdana festival tersebut masuk dalam agenda Karisma Event Nusantara.

Selain aspek ekonomi, festival ini juga memiliki misi pelestarian sejarah dan kebudayaan. Generasi muda diharapkan dapat mengenal kembali sejarah perjumpaan masyarakat Malind dengan para misionaris Belanda yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah Merauke.

“Lebih kepada generasi muda mengenal sejarah masa lalu, di mana pertemuan misionaris Belanda bersama dengan masyarakat Malind, sehingga sejarah itu tidak dilupakan oleh generasi penerus,” ujarnya.

Festival juga diharapkan memberikan dampak terhadap pengembangan ekonomi masyarakat sekaligus memperluas pengenalan budaya Papua Selatan kepada masyarakat luas.

Budaya yang ditampilkan tidak hanya berasal dari Merauke, khususnya budaya Malind, tetapi juga melibatkan unsur budaya masyarakat Yei dan Kanum, serta kabupaten lain di Papua Selatan seperti Mappi, Asmat, dan Boven Digoel.

Pada hari pertama, rangkaian kegiatan diawali dengan penyambutan tamu undangan dari Kementerian Pariwisata melalui tarian tradisional masyarakat Malind. Selanjutnya ditampilkan cerita kilas sejarah Kota Merauke, pemberian piagam kepada penyelenggara Karisma Event Nusantara, Yayasan Kali Maro Bangkit, serta berbagai pertunjukan seni dan budaya dari sejumlah etnis.

Salah satu tradisi yang menjadi bagian penting dalam pembukaan Festival Kali Maro adalah Sagu Sep dan daun anggin.

“Untuk opening ceremony kami selalu ada Sagu Sep. Kami buka acara selalu dengan buka Sagu Sep dan juga langsung dilanjutkan ke daun anggin yang merupakan budaya dari Malind,” jelasnya.

Ia menjelaskan, daun anggin memiliki makna sebagai persembahan, sedangkan Sagu Sep merupakan makanan khas masyarakat Malind yang secara konsisten dihadirkan dalam agenda pembukaan Festival Kali Maro.

“Daun anggin itu persembahan, sedangkan untuk Sagu Sep itu makanan khas suku Malind yang selama ini kami selalu ada dalam agenda Festival Kali Maro di hari pertama opening ceremony,” katanya.

Baca Juga: Provinsi Papua Selatan Dapat Penghargaan Pembangunan Progresif

Festival Kali Maro IV berlangsung hingga 5 Oktober 2026 dengan rangkaian kegiatan seni, budaya, sejarah, hiburan, serta aktivitas ekonomi masyarakat melalui keterlibatan UMKM.(Get)