Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 13 IPB University di Kawasan Transmigrasi Salor, Kabupaten Merauke terus memperkuat inovasi hilirisasi sagu. Setelah mi dan beras analog sagu, kali ini fokus pengembangan diarahkan pada pengolahan tepung sagu menjadi gula cair sagu (Sagula). Pengembangan ini melibatkan Kelompok Tani Dwitrap dan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan (TP PKK) Kampung Tambat.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot 13 IPB University, Ratih Kemala Dewi, S.P., M.Si., Ph.D. mengungkapkan bahwa pengolahan sagu menjadi gula cair merupakan langkah strategis untuk mengangkat potensi komoditas lokal di Papua sekaligus memperkuat kemandirian pangan masyarakat orang asli Papua (OAP) di Kawasan Transmigrasi Salor.

Menurutnya, inovasi Sagula tidak hanya memberikan alternatif pemanis alami yang ramah lingkungan, tetapi juga membekali kelompok tani dan ibu-ibu PKK di Kampung Tambat dengan keterampilan baru yang aplikatif dan bernilai tambah ekonomi. Inovasi pengolahan ini merupakan yang pertama di Merauke.
"Melalui pengembangan ini, kami ingin memastikan bahwa potensi sagu yang melimpah di Papua khususnya di Merauke tidak hanya berhenti sebagai bahan baku mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk turunan baru seperti gula cair, mi sagu, dan beras analog sagu yang siap berdaya saing,” kata Ratih dalam keterangannya, Selasa (3/11/2026).

Gagasan besar di balik inovasi Sagula turut diperkuat oleh Guru Besar IPB University, Prof Mochamad Hasjim Bintoro. Saat pelatihan pengolahan gula cair sagu di SMKN 5 Merauke, ia memaparkan pentingnya pemanfaatan tepung sagu menjadi gula cair sebagai langkah nyata mewujudkan kedaulatan pangan daerah serta mengurangi ketergantungan masyarakat Papua terhadap pasokan gula pasir dari luar.
Menurut Prof Bintoro, kekayaan alam melimpah di Papua seharusnya mampu memenuhi kebutuhan pangan harian masyarakat secara mandiri tanpa harus bergantung pada pasokan luar wilayah.

“Di Papua ini sudah kedaulatan pangan. Barangnya ada di sini, kita tidak tergantung orang lain. Kita yang menentukan mau makan apa hari ini karena barangnya ada. Tidak ada gula, tinggal bikin gula. Dalam 1 kg tepung sagu bisa menjadi 1 liter gula cair,” ungkap Prof Bintoro.
Prof Bintoro mendorong Pemerintah Provinsi Papua Selatan untuk mendukung pengembangan produk turunan sagu yang dilakukan oleh TEP 13 IPB University. Menurutnya, salah satu bentuk dukungan yang bisa dilakukan pemerintah daerah adalah pengadaan alat dan mesin produksi gula cair sagu, mi sagu, serta beras analog sagu.
“Saat pelatihan, mama-mama produksi Sagula pakai tangan. Ada juga mesinnya sebenarnya. Jadi kalau pakai mesin kan lebih praktis, tidak perlu menunggu lama hingga 5 jam untuk menghasilkan gula cair 1 liter. Jadi kalau bisa ini (mesin) dianggarkan,” ujar sosok yang akrab dikenal Bapak Sagu Indonesia ini.

TEP 13 IPB University terus mendampingi Kelompok Tani Dwitrap dan TP PKK Kampung Tambat dalam hilirisasi sagu, termasuk gula cair sagu. Harapannya, pendampingan yang berkelanjutan ini tidak hanya mampu menciptakan kemandirian pangan daerah dan meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat transmigrasi Salor, tetapi juga dapat menjadikan olahan produk sagu unggulan ini siap berdaya saing di pasar lokal maupun nasional dengan dukungan perizinan resmi yang lengkap. (*)








0 Komentar
Komentar tidak ada