Merauke - Wakil Bupati Merauke, Fauzun Nihayah mengatakan, Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) tahun ini adalah panggilan nurani bagi semua elemen bangsa untuk berani melindungi kelompok rentan.
Secara khusus di Kabupaten Merauke, menurutnya belum dikatakan benar-benar bangkit selama ibu masih menangis dalam ketakutan, perempuan masih dipukul dalam diam, dan anak-anak masih kehilangan rasa aman.
"Harkitnas ini kita belum benar-benar bangkit selama ibu masih menangis dan anak kehilangan rasa aman. Kebangkitan sejati dimulai ketika kita berani melindungi, mendampingi, dan memulihkan mereka yang paling rentan, karena bangsa yang benar-benar bangkit adalah bangsa yang melindungi yang paling rentan," kata Fauzun kepada media ini, Rabu, (20/5/2026).
Sebagai Wabup, juga perempuan dan seorang ibu, Fauzun punya mimpi agar perempuan tidak boleh hidup dalam ketakutan. Kekerasan terhadap perempuan bukan hanya persoalan hukum, tetapi persoalan kemanusiaan dan peradaban.
Memaknai Hari Kebangkitan Nasional di Merauke tidak cukup hanya sebagai peringatan sejarah lahirnya Budi Utomo pada 20 Mei 1908, tetapi sebagai momentum membangkitkan kesadaran sosial baru, terutama bagi perlindungan perempuan dan anak di wilayah perbatasan Indonesia.
Disadari bahwa di Merauke masih maraknya kekerasan terhadap ibu, perempuan, dan anak sehingga perlu menggeser makna kebangkitan dari seremoni menuju keberanian melindungi kehidupan.
"Kebangkitan hari ini bukan lagi melawan penjajah luar, tetapi melawan kekerasan yang terjadi di ruang paling dekat yaitu rumah, lingkungan sosial, dan relasi kuasa," ujarnya.
Menurutnya, jika dahulu kebangkitan nasional ditandai lahirnya Budi Utomo sebagai kesadaran kolektif bangsa, maka kebangkitan di Merauke hari ini adalah:
1. Bangkit dari diam terhadap kekerasan
2. Bangkit dari budaya menyalahkan korban
3. Bangkit dari anggapan bahwa kekerasan adalah urusan domestik semata.
Sehingga lanjutan Fauzun, Hari Kebangkitan Nasional harus menjadi momentum untuk:
1. Menghadirkan ruang aman bagi ibu dan perempuan,
2. Memperkuat pendampingan korban,
3. Membangun kesadaran laki-laki sebagai mitra perlindungan, bukan pelaku dominasi.
Baca Juga: Hari Kebangkitan Nasional Akan Bermakna Jika Perempuan dan Anak Bebas dari Kekerasan
"Perempuan Merauke harus dapat hidup dengan martabat, bukan bertahan dalam luka," ucap Fauzun.(Get)








0 Komentar
Komentar tidak ada