Merauke - WWF Program Papua dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Merauke libatkan berbagai kalangan untuk menyuarakan isu sampah makanan di Merauke melalui sosialisasi.
Adelia Tania, selaku staff Kampanye dan Outreach WWF Indonesia Program Papua menuturkan, edukasi lingkungan di ranah sekolah, komunitas, muda-mudi itu menjadi fondasi yang penting. Namun, di era digital saat ini, penyebaran pesan tidak dapat berhenti di ruang komunitas atau di kelas saja. Media massa dan Media sosial menjadi sarana yang dapat memperluas jangkauan edukasi, agar nilai kepedulian bisa berkembang lebih luas.
Setelah pelatihan, para peserta diharapkan tidak hanya menguasai konsep keterkaitan antara masalah limbah makanan dan fenomena tiga krisis planet, tetapi juga mampu bertransformasi menjadi inisiator kampanye digital di komunitas, kelompok, dan sekolah masing-masing.
Pelatihan yang dilakukan WWF ini menekankan bahwa optimalisasi platform media sosial kini menjadi sebuah langkah strategis untuk berperan serta dalam pelestarian bumi melalui konten edukasi.

Dikatakan, perubahan terkait isu sampah tidak selalu diawali dari langkah besar, melainkan dapat dimulai dengan kebiasaan kecil dan sederhana, misalnya meminimalisir penggunaan plastik sekali pakai, bijak dalam menggunakan energi, bijak dalam mengelola sampah makanan, habiskan makanan tanpa sisa di piringmu, dan aktif dalam menyebarkan pesan-pesan lingkungan ke sekitar kita. Ko Bijak Pangan, Ko Selamatkan Bumi!
Di lain sisi, disampaikan bahwa isu perubahan iklim tidak hanya berbicara tentang mencairnya es di kutub atau cuaca panas yang dapat dirasakan nyata karena bersentuhan langsung ke kulit kita. Namun, perubahan iklim hadir melalui berbagai cara dan peristiwa, dan semakin sering dirasakan.
"Perubahan-perubahan yang kita alami sekarang menjadi bukti nyata bahwa dunia kini sedang dihadapkan dengan isu besar, yang terangkum dalam tiga krisis planet, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah," ujar Adhelia di SMP Negeri 1 Merauke, Jumat, (19/6/2926).
Ketiga krisis tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan dan mempengaruhi, bahkan justru semakin memperburuk kondisi bumi. Salah satunya adalah sampah makanan, memiliki kaitan erat dengan perubahan iklim dan juga keanekaragaman hayati.

Ketika sisa makanan berakhir di tempat pembuangan akhir tanpa dikelola dengan baik, proses pembusukannya menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan global sekitar 28 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida. Oleh karena itu, diperlukan kepedulian dan aksi bersama agar dampaknya tidak semakin meluas.
Upaya tersebut dapat dimulai dari perubahan gaya hidup yang berkelanjutan melalui langkah-langkah sederhana, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat energi, tidak membuang sampah sembarangan, serta mengurangi sampah makanan mulai dari piring makan sendiri.
Semangat untuk mendorong perubahan gaya hidup berkelanjutan, mulai dari mengenal sampah makanan, mulai tumbuh di Kabupaten Merauke. Melalui edukasi dan pelibatan komunitas, rekan mahasiswa, pemuda lintas agama, dan juga sekolah adiwiyata, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Merauke bersama WWF Indonesia Program Papua menyelenggarakan pelatihan penyusunan konten kampanye lingkungan melalui media sosial sebagai upaya meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menyuarakan isu lingkungan yang berlokasi di SMP Negeri 1 Merauke dengan tema kegiatan adalah Ko Bijak Pangan, Ko Selamatkan Bumi.
Baca Juga: Pembangunan Jalan SP9-Tanah Miring Ditargetkan Rampung Tahun Ini
Perwakilan dari SMP Negeri 1, Ipa Kameubun mengatakan, lingkungan sekolah itu menjadi ruang belajar yang paling dekat dengan peserta didik. Ketika mereka memahami bahwa tindakan sederhana, seperti menghabiskan makanan atau memilah sampah, dapat memberi dampak bagi bumi, maka mereka akan tumbuh menjadi generasi yang lebih bertanggung jawab.(Get)








0 Komentar
Komentar tidak ada