Merauke - Festival Kali Maro tahun keempat akan digelar pada 1–5 Oktober 2026 di Taman Iman dan Budaya Gerbang Hati Kudus Yesus kawasan wisata Sinai, Merauke, Papua Selatan.
Festival yang diselenggarakan Yayasan Kali Maro Bangkit tersebut tahun ini telah masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, sehingga pelaksanaannya menjadi salah satu event berskala nasional.
Direktur Yayasan Kali Maro Bangkit selaku penyelenggara, Jossefin Iriani Kewamijai, mengatakan persiapan di lokasi festival telah dilakukan sejak 20 Agustus 2026.
Tahap awal persiapan meliputi pembersihan lahan, penentuan lokasi panggung dan booth, serta pembangunan sejumlah booth dengan konsep tradisional Marind.
“Persiapan yang kami lakukan saat ini adalah pembersihan lahan dan penentuan spot untuk panggung maupun booth. Pengerjaannya dilakukan secara kolaboratif antara masyarakat dan panitia,” ujarnya, Rabu, (26/8/2026).

Persiapan tersebut melibatkan masyarakat Kampung Urum sebagai tuan rumah, Kampung Matara,Waninggap Nanggo, serta masyarakat di wilayah Sirapu hingga Anasai. Kelompok seniman yang bermukim di kawasan tersebut juga turut terlibat dalam pengerjaan booth tradisional.
Festival Kali Maro ke-4 nantinya melibatkan masyarakat asli Marind, suku-suku lainnya, masyarakat Papua, hingga masyarakat Nusantara.
Berbagai potensi budaya dan ekonomi lokal akan ditampilkan dalam festival tersebut, mulai dari makanan tradisional, nyanyian dan tarian tradisional, hingga seni ukir.
Acara puncak Festival Kali Mari dijadwalkan berlangsung selama lima hari, mulai 1 hingga 5 Oktober 2026, pukul 07.00–17.00 WIT setiap harinya.

Menurut Jossefin, Festival Kali Maro tidak hanya menjadi ajang pertunjukan, tetapi juga merupakan upaya menjaga dan melestarikan budaya serta memperkuat jati diri masyarakat asli Merauke. Ia menyebutkan tujuan umum festival adalah:
• Melestarikan budaya dan nilai luhur Marind.
• Mengembangkan Potensi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan UMKM berbasis kearifan lokal.
• Memperkuat persaudaraan dan ruang perjumpaan lintas etnis.
• Mendorong kedaulatan pangan dan penggunaan produk lokal.
• Meningkatkan daya tarik pariwisata dan kualitas event.
• Membangun kolaborasi pemerintah, masyarakat, gereja, akademisi, dan dunia usaha.
• Menciptakan sistem kaderisasi panitia dan pengelolaan pengetahuan.
“Kami ingin budaya masyarakat asli Marind tetap ditampilkan dan dijaga, sehingga masyarakat di luar dapat melihat bahwa budaya suku asli Papua tetap terpelihara, begitu juga dengan budaya suku-suku lainnya,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, panitia memperkirakan kebutuhan anggaran mencapai sekitar Rp2,033 miliar (dua miliar tiga puluh tiga juta rupiah) . Hingga saat ini, dana yang telah terkumpul sekitar Rp826 juta yakni dukungan Pemerintah Kabupaten Merauke melalui Dinas Pariwisata.
Sementara itu, dukungan dari Pemerintah Provinsi Papua Selatan maupun pihak swasta masih dalam proses penggalangan. Panitia juga membuka peluang bagi berbagai pihak untuk memberikan dukungan, baik berupa anggaran, bantuan fisik maupun kebutuhan sembako.
Jossefin mengajak pemerintah, dunia usaha, komunitas, masyarakat, serta berbagai pihak lainnya untuk berkolaborasi dalam menyukseskan Festival Kali Maro ke-4.
“Festival ini merupakan festival untuk masyarakat Merauke, masyarakat Papua Selatan, dan juga masyarakat Nusantara lainnya,” ujarnya.
Baca Juga: Hasil Sensus Ekonomi Jadi Acuan Pelaku Usaha Tentukan Arah Ekspansi Bisnis
Panitia berharap dukungan dari berbagai pihak dapat membantu memenuhi kebutuhan pelaksanaan festival sekaligus memastikan seluruh rangkaian kegiatan budaya berjalan dengan baik.(Get)








0 Komentar
Komentar tidak ada