Berita Utama

Antisipasi Gagal Panen, Distan Papua Selatan Koordinasi dengan Bulog Merauke

Merauke - Kepala Dinas Pertanian Pangan, Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Selatan, Paino, melakukan koordinasi dengan Perum Bulog Cabang Merauke untuk mengantisipasi menipisnya stok beras akibat ancaman gagal panen di sejumlah sentra pertanian Kabupaten Merauke, Jumat (11/9/2026).

Saat ini, pemerintah mulai mewaspadai dampak kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena El Nino terhadap produksi padi dan ketersediaan pangan hingga akhir tahun. Sejumlah areal persawahan dilaporkan mengalami kekurangan air, terutama tanaman padi yang masih berusia di bawah satu hingga dua bulan.

Koordinasi dengan Bulog dilakukan untuk memastikan ketersediaan stok beras hingga Desember 2026, sekaligus menyiapkan langkah antisipasi apabila produksi padi petani mengalami penurunan akibat kekeringan.

Dalam koordinasi tersebut, diketahui realisasi penyerapan beras Bulog masih jauh dari target. Dari target pengadaan sebesar 27 ribu ton, hingga saat ini baru terealisasi sekitar 4 ribu ton.

“Target kita memang masih jauh dari 27 ribu ton. Target dari Bulog baru tercapai 4 ribu ton. Ini berarti kita harus mengambil langkah-langkah,” ujar Paino.

Ia mengatakan, kondisi kekeringan saat ini menjadi salah satu kendala utama yang dihadapi petani. Berdasarkan pemantauan di lapangan, terdapat sejumlah lahan persawahan yang mulai kekurangan pasokan air.

“Kalau padi sudah di atas dua bulan, mungkin harapan panen masih ada. Tapi kalau padi masih di bawah satu bulan dan kemudian mengalami kekeringan selama satu sampai dua bulan, itu yang kita khawatirkan,” jelasnya.

Laporan mengenai kekeringan tersebut datang dari sejumlah sentra pertanian. Berdasarkan hasil pertemuan dengan DPRD dan para petani di wilayah Kurik, terdapat lebih dari 500 hektare lahan yang dilaporkan mengalami kekurangan air.

Sementara untuk wilayah Tanah Miring, pemerintah belum memperoleh data pasti mengenai luas lahan yang terdampak. Namun, berdasarkan hasil koordinasi dengan DPRD dan Balai Sungai dan Rawa, terdapat potensi kekeringan yang diperkirakan mencapai ribuan hektare.

“Untuk Tanah Miring secara pasti kami belum tahu. Tapi memang ada potensi kekeringan, itu ribuan hektare. Data masih kami kumpulkan,” katanya.

Menurut Paino, pemerintah masih berupaya menyelamatkan tanaman padi yang memiliki sumber air. Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah mengoptimalkan pemompaan pada lahan-lahan yang masih memiliki sumber air.

Upaya tersebut diharapkan dapat menyelamatkan tanaman padi apabila dalam satu hingga dua bulan ke depan belum terjadi hujan.

“Kalau masih ada sawah yang punya stok air, kita berusaha mungkin dipompa dan segala macam. Kita masih berupaya supaya kalau satu atau dua bulan tidak hujan, tanaman yang masih bisa diselamatkan dapat dipertahankan,” ujarnya.

Namun, apabila kekeringan terus berlangsung dan produksi padi mengalami penurunan, pemerintah akan berkoordinasi dengan Bulog untuk menjaga ketersediaan pangan sekaligus mengantisipasi gejolak harga.

Salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah mendatangkan beras dari luar daerah apabila stok lokal tidak mencukupi.

“Kalau memang terpaksa seperti itu karena stok tidak ada, mungkin nanti langkahnya dari Bulog untuk mendatangkan dari luar. Tapi kita masih berupaya menyelamatkan produksi yang ada,” katanya.

Paino mengakui kondisi tersebut mulai dikeluhkan petani karena kegagalan panen dapat menyebabkan kerugian. Terlebih, sebagian petani memiliki kewajiban kredit yang harus tetap dibayarkan.

“Keluhan dari petani cukup lumayan. Kalau satu atau dua bulan tidak panen, tentu mereka rugi. Ada juga yang memiliki kredit,” ujarnya.

Terkait upaya membuka pintu air untuk mengatasi kekeringan, Paino mengatakan langkah tersebut sulit dilakukan apabila ketersediaan air di sumber maupun saluran sudah menurun.

Karena itu, pemerintah akan mengarahkan upaya pada normalisasi saluran irigasi dan optimalisasi sumber air yang masih tersedia.

“Kalau sekarang pembukaan pintu air, airnya sudah tidak ada. Mungkin tahun ini kita akan normalisasi saluran-saluran itu. Ini memang sudah diprediksi jauh hari sebelumnya akan terjadi iklim yang sangat berkepanjangan terkait musim panas,” jelasnya.

Ia menambahkan, upaya penyedotan air sebenarnya telah dilakukan pada tahun sebelumnya. Namun, kondisi saat ini berbeda karena sumber air juga mengalami penurunan akibat kemarau panjang.

Baca Juga: Tim Ekspedisi Patriot UGM Gandeng UNMUS Dorong Pengembangan Sektor Hulu Kopi Muting

“Kalau airnya ada, kita bisa datangkan alat untuk menyedot. Tapi kalau airnya tidak ada, alat juga tidak bisa digunakan. Ini memang kondisi kekeringan yang terjadi secara nasional,” pungkasnya.(Get)