Merauke - Perum Bulog Cabang Merauke saat ini memiliki stok beras sekitar 1.700 ton di gudang. Jumlah tersebut dinilai masih mencukupi kebutuhan rutin masyarakat hingga sekitar tiga bulan ke depan.
Namun, kebutuhan tambahan untuk program bantuan pangan membuat Bulog harus mendatangkan beras dari luar daerah. Untuk sementara, sebanyak 5.000 ton beras direncanakan masuk ke Merauke dari Jawa Timur dan Makassar, Sulawesi Selatan.
Kepala Bulog Cabang Merauke, Fajar Muhamad Dirgantara mengatakan, stok sekitar 1.700 ton sebenarnya masih relatif aman jika hanya digunakan untuk kebutuhan rutin masyarakat.
“Stok yang ada di gudang Bulog sekarang kurang lebih 1.700 ton. Kalau untuk kebutuhan rutin saja, sebenarnya bisa sampai tiga bulan ke depan,” ujar Fajar di ruang kerjanya, Jumat, (11/9/2026) usai menerima Kepala Dinas Pertanian, Pangan Kelautan dan Perikanan Papua Selatan, Paino dalam koordinasi antisipasi gagal panen di Merauke.
Meski demikian, kebutuhan beras meningkat karena adanya program bantuan pangan untuk periode Juli hingga September 2026. Untuk program tersebut, alokasi beras yang dibutuhkan mencapai sekitar 4.000 ton.
“Untuk bantuan pangan sendiri, untuk tiga bulan ini, alokasi Juli sampai September kurang lebih 4.000 ton. Artinya, untuk mencukupi stok yang ada, kita memang sudah meminta izin kepada bupati bahwa kita akan memasukkan beras dari luar,” jelasnya.
Beras tersebut rencananya didatangkan dari Jawa Timur dan Makassar, Sulawesi Selatan. Dari total 5.000 ton yang direncanakan, sebagian beras disebut sudah tiba di Merauke, sementara sekitar 4.000 ton lainnya masih dalam perjalanan.
“Untuk sementara 5.000 ton. Sudah ada yang tiba, sementara yang masih dalam perjalanan sekitar 4.000 ton,” katanya.
Di sisi lain, realisasi penyerapan beras Bulog dari petani lokal hingga September 2026 masih rendah. Dari target pengadaan sebesar 27.000 ton, Bulog baru menyerap sekitar 4.000 ton atau sekitar 16 persen.
Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi faktor alam, terutama kemarau panjang yang berdampak terhadap produksi padi petani.
Ia mengatakan, pihaknya juga terus melakukan pemantauan langsung ke lapangan untuk melihat kondisi tanaman dan produksi petani. Monitoring dilakukan melalui tim yang setiap hari turun ke sejumlah wilayah sentra pertanian.
Bulog sebenarnya berharap kebutuhan beras Merauke dapat dipenuhi dari produksi petani lokal. Namun, kondisi produksi yang menurun membuat pasokan dari luar daerah menjadi salah satu pilihan untuk menjaga stabilitas pangan.
“Kita sebenarnya tidak mau seperti itu. Kita mau Merauke ini penyalurannya dari lokal, dari petani lokal. Tapi untuk kestabilan harga dan keamanan pangan, mau tidak mau kita harus mendatangkan beras dari luar,” katanya.
Menurutnya, ketersediaan pangan, khususnya beras, menjadi hal penting untuk menjaga stabilitas daerah. Karena itu, pasokan harus tetap tersedia meskipun produksi lokal sedang menghadapi kendala akibat kondisi cuaca.
Selain memastikan stok untuk kebutuhan masyarakat, Bulog Merauke juga tetap menjalankan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) bersama Dinas Ketahanan Pangan.
Baca Juga: Antisipasi Gagal Panen, Distan Papua Selatan Koordinasi dengan Bulog Merauke
“Operasi pasar tetap kita jalankan. SPHP kita jalankan melalui GPM ataupun bersama Dinas Ketahanan Pangan untuk menjaga stabilisasi harga di Merauke,” ujarnya.(Get)








0 Komentar
Komentar tidak ada