Berita Utama

Minggu Pertama Pra Paskah, Pastor Roy Sugianto Menyuarakan Kerusakan Alam Papua dan Pertobatan

Merauke - Bumi yang diciptakan Tuhan dengan segala kebaikannya, perlahan-lahan rusak dan merintih. Kerusakan ini terjadi bukan karena ciptaan Tuhan kurang memadai, melainkan karena dahaga dan kehausan manusia yang tak pernah terpuaskan. 

Keserakahan beroperasi di sekitar kita, menggerogoti kehidupan. la sering kali tidak datang dengan wajah yang menyeramkan, melainkan bersembunyi di balik topeng yang sangat manis: topeng "pembangunan", "kemajuan", dan "kesejahteraan masyarakat," demikian pengantar dalam homili yang disampaikan RD. Roy Sugianto pada Minggu Prapaskah I, 22 Februari 2026 di Gereja Katedral Merauke.

Kita melihat kenyataan pahit ini tak jauh dari halaman rumah kita sendiri. Di Sorong, misalnya, kita mendengar dengan dada sesak bagaimana bujuk rayu finansial digunakan untuk mengelabui kepolosan masyarakat adat. Hutan-hutan yang selama berabad-abad menjadi rahim kehidupan, ditukar dengan segelintir uang demi memuluskan jalan bagi roda industri dan perkebunan sawit. Masyarakat dijanjikan kesejahteraan yang gilang-gemilang, namun pada akhirnya, yang sering tersisa di tangan mereka hanyalah hilangnya tanah ulayat, hilangnya identitas, dan tercerabutnya sumber penghidupan.

Di tingkat yang lebih luas, kita pun menyaksikan ironi yang sama pada wajah bangsa kita. Terkadang, negara begitu sibuk mengejar prestasi di panggung internasional, bangga ketika dirangkul dalam kesepakatan-kesepakatan elit global, seolah-olah pujian dari luar negeri adalah segalanya. Namun, kebanggaan semu itu tiba-tiba terasa begitu hampa ketika kita menunduk dan menatap realitas di tanah kita sendiri, khususnya di tanah Papua ini. Di saat para pengambil kebijakan tersenyum bangga di luar sana, rakyat di akar rumput masih menangis menanti campur tangan pemerintah yang sungguh-sungguh menghadirkan kesejahteraan yang nyata dan berkeadilan.

"Sering kali, inisiatif-inisiatif raksasa hadir bukan sebagai tangan bapa yang merangkul anak-anaknya, melainkan membawa bayang-bayang ketakutan akan hilangnya hak dan ruang hidup masyarakat lokal," ucapnya.

Lanjut dia, kebohongan yang berkedok kesejahteraan inilah yang sebenarnya menjadi pintu masuk bagi kita untuk menyelami kedalaman sabda Tuhan pada Minggu Prapaskah pertama ini. Hari ini, Gereja menyajikan sebuah cermin besar bagi kemanusiaan kita melalui untaian sabda suci yang saling bertautan, membawa kita melintasi dua lanskap batin yang sangat kontras: dari rimbunnya Taman Eden menuju sunyi dan gersangnya Padang Gurun.

Kitab Kejadian menyingkapkan kepada kita akar dari segala luka dan kerusakan ini. Di Taman Eden, manusia hidup dalam kelimpahan; mereka memiliki segalanya. Kejatuhan mereka ternyata tidak bermula dari rasa lapar atau kekurangan, melainkan dari sebuah ilusi tentang otonomi mutlak. Sang ular menipu manusia dengan sebuah bisikan beracun yang terus menggema hingga hari ini: "Kamu akan menjadi seperti Allah." Dosa pertama di taman itu bukanlah sekadar perkara memakan buah terlarang. Dosa itu adalah kesombongan akal budi manusia yang ingin mengambil alih takhta Tuhan; hasrat untuk menentukan sendiri apa yang benar dan salah demi memuaskan kepentingannya sendiri. 

Persis seperti kekuatan-kekuatan duniawi saat ini yang merasa berhak merobek-robek alam dan mengeksploitasi sesamanya demi ambisi dan kekuasaan. Akibatnya sangat tragis: harmoni penciptaan hancur berkeping keping, digantikan oleh keterasingan, ketakutan, dan rasa malu.

Melihat wajah dunia dan wajah batin kita yang retak ini, wajarlah bila jiwa kita menjerit memohon belas kasih bersama Pemazmur hari ini. Mazmur 51 adalah jeritan tangis dari seorang manusia yang akhirnya menyadari kejatuhannya. Daud tidak mencari alasan. la tidak menyalahkan keadaan. la hanya tertunduk dan berseru, "Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku." Ini adalah suara pertobatan yang paling sejati. 

Prapaskah, bukanlah sekadar masa untuk menjalankan rutinitas menahan lapar dan dahaga dengan wajah muram, Prapaskah adalah sebuah masa penelanjangan ilusi. Sama seperti Adam dan Hawa yang pada akhirnya menyadari bahwa mereka telanjang dan mencoba bersembunyi, dunia modern pun sering membuat kita bersembunyi di balik alasan-alasan kemajuan dan stabilitas, padahal di baliknya ada penindasan yang disembunyikan. 

"Masa Prapaskah dengan lembut namun tegas menarik kita keluar dari tempat persembunyian itu. Tuhan meminta kita menanggalkan topeng-topeng kesalehan yang palsu, dan berani menatap kenyataan apa adanya."

Masa ini adalah sebuah undangan untuk berjalan meninggalkan hiruk-pikuk janji duniawi dan melangkah memasuki "padang gurun kesadaran" batin kita. Di dalam ruang sunyi itulah, puasa dan pantang kita menemukan rohnya yang sejati: sebagai latihan spiritual untuk menolak keras segala bentuk "jalan pintas" yang merugikan orang lain. Prapaskah melatih hati kita untuk berani merasa lapar akan keadilan, dan dengan tegas menolak memakan "roti" yang dihasilkan dari tetesan air mata dan rampasan tanah sesama kita.

Lebih dari segalanya, empat puluh hari ini adalah jalan peralihan dari manusia lama menuju manusia baru. Kita diajak untuk mematikan sifat serakah si "Adam Lama" di dalam diri kita, agar kasih Kristus, Sang "Adam Baru", dapat sungguh-sungguh hidup dan berdenyut di dalam kita. Kristus memanggil Gereja-Nya di tanah Papua ini untuk meneladani ketaatan-Nya: menjadi umat yang berdiri tangguh, tegak menyuarakan kebenaran, tidak mudah dibeli oleh kilau dunia, dan berani menyatukan denyut nadinya dengan mereka yang lemah dan terpinggirkan.

Mari, kita melangkah ke dalam Masa Prapaskah ini dengan dada yang lapang dan tekad yang menyala-nyala. Biarlah masa ini menjadi tungku perapian yang memurnikan batin kita dan menumbuhkan pertobatan sosial yang nyata, ajaknya.

"Semoga rahmat Allah membalut luka-luka kita, memampukan kita menjadi pembawa damai yang sejati, dan menjaga tanah titipan Tuhan ini dengan penuh cinta. Tuhan memberkati peziarahan Prapaskah kita. Tuhan mengutus kita kembali ke tengah keluarga, tempat kerja, dan masyarakat dengan sebuah kesadaran dan tugas yang baru."

Ketika Anda melangkah keluar dari pintu gereja ini dan kembali menjumpai realitas dunia yang penuh dengan godaan, janganlah gentar. Tolaklah segala bujuk rayu yang menawarkan "jalan pintas" menuju kenyamanan dengan cara mengorbankan orang lain. "Jangan mau berkompromi dengan keserakahan yang merampas keadilan dan merusak rahim kehidupan tanah Papua yang kita cintai ini."

Baca Juga: Wabup Merauke Ingatkan SPPG MBG Utamakan Makanan Higienis, Bernutrisi dan Sehat

"Pulanglah dengan damai. Jadilah suara bagi mereka yang tak bersuara, jadilah penyembuh bagi alam yang terluka, dan jadilah saksi-saksi Kristus yang membawa kesejahteraan sejati bagi tanah ini," ucapnya menutup kotbahnya.(Get)