Berita Utama

Perusahaan Tebu Merauke Akan Menyerap 20.000 Tenaga Kerja

Merauke - Gubernur Provinsi Papua Selatan, Apolo Safanpo mengutarakan bahwa hadirnya perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan tebu di Kabupaten Merauke akan memberikan manfaat besar, salah satunya menyerap banyak tenaga kerja. 

Penyerapan tenaga kerja di perusahaan perkebunan tebu ini sudah dibahas pemerintah Provinsi Papua Selatan bersama pihak perusahan. Dalam pembahasan yang sudah dilakukan, perusahaan mengatakan bahwa penerimaan tenaga kerja dilakukan bertahap sesuai dengan pertumbuhan perusahaan. Mulai dari pembersihan lahan, penanaman, hingga proses panen dan penanganan di pabrik. 

"Sekarang ini sudah menyerap 2.800 tenaga kerja. Mulai dari yang unskill samapai yang punya skill. Unskill itu mereka yang tidak sekolah, hanya tamat SD atau SMP, itu mereka mendapat penghasilan Rp4.500.000/bulan. Makan minum di perusahaan ada yang dikasi mess dan yang unskill ini kita bekerja sama dengan Pemkab Merauke, mendata teman-teman kita yang pemulung yang tidak ada pekerjaan, kita bekerja sama dengan pihak perusahaan untuk diserap," kata Gubernur Provinsi Papua Selatan, Apolo Safanpo, Rabu, (22/4/2026) di Merauke. 

Kali ini terdengar berbeda dan menarik karena nama pemulung masuk target pemerintah untuk diberikan lapangan kerja. Jika ini benar-benar dilakukan, ibarat kata masyarakat juga menikmati manisnya tebu alias tidak lagi susah-susah memikul karung untuk mencari barang bekas lalu dijual hanya untuk sekali makan. Tidak ada lagi kekhawatiran soal makan, hanya keyakinan bahwa dengan bekerja dan digaji perusahaan, akan ada peningkatan taraf hidup yang lebih baik. 

Maksimal, lanjut Apolo, penyerapan tenaga kerja bisa mencapai 20.000 tenaga kerja yang diserap ketika pabrik sudah beroperasi. 

"Sekarang ini, setiap bulan perusahaan rekrut 150 orang dan ditryning. Dia punya diklat sendiri untuk melatih cara mengoperasikan mesin-mesin yang ada di perusahaan. Kita harapkan tenaga kerja kita dilatih dulu baru masuk di tempat kerja," kata Apolo. 

Disampaikan, pertumbuhan suatu daerah membutuhkan investasi, namun kehadiran investasi mesti berdampak pada keseimbangan lingkungan dan pertumbuhan masyarakat setempat serta memberi sokongan untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, ada sepuluh perusahaan konsorsio yang bergerak di perkebunan tebu yang terintegrasi dengan industri gula, bioethanol dan biomassa untuk pembangkit tenaga listrik. Dari 10 perusahaanitu, dua perusahan sudah berjalan yakni PT. Global Papua Abadi dan PT. Murni Nusantara Mandiri yaitu di daerah Sermayam 7000 hektare dan 9000 hektare di Jagebop. 

Baca Juga: Tahun Depan, Proyek Tebu di Merauke Siap Dipanen

Targetnya, pertengahan tahun 2027 hasil sudah bisa dipanen dan penggilingan perdana. Saat ini masih pada tahap uji coba, dan kesepuluh perusahaan ini memiliki nilai investasi sebesar Rp100 triliun.(Get)