Merauke - Proyek Strategis Nasional (PSN) tebu di Kabupaten Merauke terus menunjukkan perkembangan. Saat ini proyek tersebut dikelola oleh konsorsium yang terdiri dari 10 perusahaan, namun baru dua perusahaan yang telah aktif, yakni PT Global Papua Baru dan PT Murni Usaha Mandiri.
Kepala PTSP Papua Selatan, Petrus Assem menyebut pembangunan pabrik penggilingan tebu ditargetkan mulai beroperasi pada Juli atau Agustus 2027. Saat ini perusahaan masih menyelesaikan proses pelepasan kawasan yang akan digunakan untuk pembangunan pelabuhan serta kawasan industri pendukung.
Selain itu, pemerintah juga telah melakukan survei terhadap jalur distribusi yang akan dilalui angkutan hasil produksi, termasuk melintasi Jembatan Maro. Infrastruktur tersebut menjadi perhatian karena dikhawatirkan belum mampu menahan beban kendaraan kontainer dalam jumlah besar sehingga diperlukan kajian dan penanganan lebih lanjut.
Dalam pelaksanaannya, salah satu perusahaan yang dinilai memiliki komitmen kuat terhadap masyarakat adat adalah Global Papua Abadi. Perusahaan menerapkan pembayaran hak ulayat berdasarkan luas lahan yang digunakan, bukan berdasarkan jumlah warga yang berada di kawasan tersebut. Pembayaran dilakukan secara bertahap mengikuti proses pembukaan dan pengelolaan lahan.
Dari sisi ketenagakerjaan, pekerjaan seperti pembersihan lahan dan pelepah tebu saat ini sebagian besar dikerjakan oleh orang asli Papua, khususnya masyarakat di sekitar lokasi proyek. Namun sebagian besar tenaga kerja tersebut masih berstatus kontrak.
Pemerintah berharap perusahaan tidak hanya menyerap tenaga kerja lokal untuk pekerjaan dasar, tetapi juga memberikan pembinaan sehingga masyarakat Papua dapat menempati posisi yang lebih strategis di masa mendatang, mulai dari operator alat berat hingga jabatan manajerial.
Proyek tebu ini diperkirakan memiliki nilai investasi mencapai sekitar Rp85 triliun, menjadikannya salah satu investasi terbesar yang sedang dikembangkan di Papua Selatan. Meski demikian, data pasti mengenai jumlah tenaga kerja yang telah terserap saat ini masih dalam proses pendataan dan akan disampaikan kemudian.
"Kami akui masih terdapat tantangan dalam pengembangan sumber daya manusia. Sebagian pekerja lokal kebanyakan belum mampu bertahan lama bekerja di perusahaan. Sehingga untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja lokal, pemerintah terus menyiapkan pelatihan melalui Balai Latihan Kerja (BLK)," ujarnya, Kamis, (6/8/2026).
Baca Juga: 240 Peserta Ekspedisi Patriot Tiba di Merauke, Fokus Kembangkan Kawasan Transmigrasi
Melalui program tersebut diharapkan masyarakat Papua memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri sehingga semakin banyak yang dapat terserap dan berkembang hingga menduduki posisi strategis di perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah Papua Selatan.(Get)








0 Komentar
Komentar tidak ada