Merauke - Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Papua Selatan menggelar kegiatan Peningkatan Kapasitas Tenaga Kesehatan dan Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) dalam Deteksi Penyakit Infeksi, Penggunaan Obat Rasional, serta Pelayanan Kesehatan Masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung di Aula RSUD Merauke ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat ITB Tahun 2026 dan diikuti tenaga kesehatan serta ATLM di Kabupaten Merauke.
Pelatihan menghadirkan sejumlah narasumber dari FMIPA ITB, Sekolah Farmasi ITB, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta EXEINS Health Initiative (EHI).
Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat kompetensi tenaga kesehatan, khususnya dalam penggunaan obat secara rasional, deteksi dan diagnosis penyakit infeksi, pengelolaan sampel klinis, serta pemanfaatan hasil pemeriksaan laboratorium sebagai dasar pengambilan keputusan klinis.

Kegiatan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan ATLM dalam deteksi penyakit infeksi, penggunaan obat rasional, serta pelayanan kesehatan masyarakat di Merauke.
Pembukaan kegiatan dihadiri Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Papua Selatan, dr. Benedicta C.H. Rahangiar, MARS. Ia mengatakan, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dinilai penting untuk memperkuat pelayanan kesehatan hingga ke wilayah pedalaman Papua Selatan.
Tenaga kesehatan yang bertugas di rumah sakit, puskesmas maupun fasilitas kesehatan lainnya diharapkan memiliki kompetensi yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan masyarakat di lapangan.
“Dengan ini kami berharap seluruh Nakes kami, baik di RSUD, Puskesmas maupun fasilitas kesehatan lainnya, baik pemerintah maupun swasta, mempunyai kemampuan yang bisa diterapkan di mana saja,” ujarnya, Jumat, (28/8/2026).
Menurutnya, kondisi geografis Papua Selatan menjadi tantangan tersendiri dalam memberikan pelayanan kesehatan. Tenaga kesehatan di puskesmas yang berada di wilayah pedalaman juga menghadapi berbagai keterbatasan ketika harus mendapatkan akses terhadap layanan maupun peningkatan kapasitas.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para narasumber dari Bandung yang telah hadir dan berbagi pengetahuan dengan tenaga kesehatan di Merauke.
Ke depan, kolaborasi dengan perguruan tinggi, lembaga riset, para pakar serta berbagai mitra kesehatan diharapkan dapat terus dikembangkan, khususnya untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia kesehatan di Papua Selatan.
“Kami berharap ke depan kita bisa terus berkolaborasi, baik dalam transfer pengetahuan maupun pengembangan-pengembangan lainnya, terutama di bidang kesehatan di Tanah Papua Selatan,” pungkasnya.
Hadir pula Direktur RSUD Merauke, dr. Dewi Wulandari, serta Dr.rer.nat Fifi Fitriyah Masduki dari FMIPA, Institut Teknologi Bandung. Fifi Fitryah mengatakan, penguatan kapasitas tenaga kesehatan di Merauke tidak hanya menjadi ruang untuk transfer pengetahuan dari perguruan tinggi kepada tenaga kesehatan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk bertukar pengalaman berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
Dikatakan, tenaga kesehatan dan dokter yang selama ini menangani malaria secara langsung di Merauke memiliki pengalaman lapangan yang sangat penting untuk dibagikan kepada para akademisi dan peneliti.
“Sebetulnya yang lebih berpengalaman ini adalah teman-teman dan dokter-dokter yang di sini, yang mengatasi malaria secara langsung. Jadi nanti pengalaman tersebut bisa kita diskusikan dan verifikasi bersama,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kolaborasi tersebut akan membahas berbagai aspek, mulai dari penggunaan obat secara rasional hingga pemanfaatan teknologi pemeriksaan dan pengembangan terapi.
Dari sisi akademik, pengalaman di bidang biokimia dan molekuler yang dimiliki tim ITB juga diharapkan dapat menjadi bahan untuk bertukar ide terkait pengembangan pemeriksaan maupun terapi di laboratorium.
Menurutnya, pengalaman para peneliti yang melakukan penelitian berbasis masyarakat atau field study juga dapat dipadukan dengan pengalaman tenaga kesehatan yang berhadapan langsung dengan pasien di lapangan.
“Jadi mudah-mudahan ini tidak hanya transfer satu arah. Kita juga bisa saling berdiskusi, seperti apa kondisi di lapangan, bagaimana yang kami lakukan di kampus, dan seperti apa hasilnya di lapangan,” katanya.

Kehadiran pemerintah daerah, rumah sakit, perguruan tinggi, lembaga riset, dan mitra kesehatan tersebut menunjukkan adanya kolaborasi lintas institusi untuk memperkuat pelayanan kesehatan di Merauke dan Papua Selatan.
Empat Materi Utama
Pada sesi pertama, Prof. Rahmat Mauludin dari Sekolah Farmasi ITB menyampaikan materi Penggunaan Obat Rasional untuk Penyakit Infeksi.
Materi tersebut membahas pentingnya pemilihan dan penggunaan obat berdasarkan indikasi klinis, pemilihan jenis obat yang sesuai, dosis dan lama pemberian yang tepat, serta mempertimbangkan aspek keamanan dan efektivitas terapi.
Penggunaan obat secara rasional menjadi salah satu bagian penting dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan sekaligus mendukung pengendalian resistensi antimikroba.
Sesi kedua, Dr. Leily Trianty dari Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman BRIN dengan materi Penguatan Kemampuan Deteksi Parasit Malaria untuk Peningkatan Diagnosis dan Pengobatan Menuju Eliminasi Malaria di Papua Selatan.
Penguatan kemampuan deteksi malaria dinilai penting untuk mendukung diagnosis yang akurat, pemberian terapi yang tepat, serta upaya pengendalian dan eliminasi malaria di Papua Selatan.
Selanjutnya, Dr.rer.nat. Fifi Fitriyah Masduki dari FMIPA ITB menyampaikan materi Diagnosis Tepat, Terapi Tepat: Peran RDT dan Pemeriksaan Molekuler pada Penyakit Infeksi.
Pembahasan mencakup prinsip penggunaan Rapid Diagnostic Test (RDT) dan pemeriksaan molekuler, termasuk kelebihan, keterbatasan, serta interpretasi hasil pemeriksaan dalam konteks klinis.
Pemahaman tersebut diharapkan membantu tenaga kesehatan mengintegrasikan hasil pemeriksaan laboratorium dengan kondisi pasien sehingga dapat mendukung pengambilan keputusan klinis secara tepat.
Sementara itu, sesi keempat disampaikan Ristya Amalia, S.Si. dari EXEINS Health Initiative (EHI) dengan materi SOP Manajemen Sampel Klinis. Ia menekankan pentingnya tata kelola spesimen mulai dari proses pengambilan, pelabelan, penyimpanan, transportasi hingga pemrosesan di laboratorium.
Penanganan sampel yang benar menjadi bagian fundamental dalam menjaga mutu pemeriksaan. Sebab, kesalahan pada tahap pra-analitik dapat memengaruhi akurasi hasil pemeriksaan dan pada akhirnya berdampak terhadap ketepatan diagnosis.
Hubungkan Diagnosis dan Terapi
Keempat materi yang diberikan pada hari pertama pelatihan disusun sebagai rangkaian yang saling berkaitan, mulai dari pengelolaan sampel, pemeriksaan laboratorium, diagnosis, hingga penentuan terapi.
Diagnosis yang tepat membutuhkan sampel klinis yang dikelola dengan baik serta metode pemeriksaan yang sesuai. Selanjutnya, hasil diagnosis menjadi salah satu dasar penting dalam menentukan pilihan terapi dan penggunaan obat secara rasional.
Melalui pendekatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai teknologi dan prosedur laboratorium, tetapi juga memahami keterkaitan antara kualitas sampel, ketepatan diagnosis, interpretasi hasil pemeriksaan, hingga pemilihan terapi bagi pasien.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kompetensi tenaga kesehatan dan ATLM di Merauke, mendorong penerapan pelayanan kesehatan berbasis bukti, serta meningkatkan kualitas penanganan penyakit infeksi, khususnya malaria di Papua Selatan.
Program tersebut merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat Institut Teknologi Bandung Tahun 2026 yang didanai Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB.
Seluruh rangkaian kegiatan dikoordinasikan oleh Dr.rer.nat. Fifi Fitriyah Masduki dari FMIPA ITB dengan dukungan kolaborasi lintas institusi.
Baca Juga: Papua Selatan Bermazmur Jadi Momentum Perkuat Persatuan, Kedamaian dan Taat Hukum
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, rumah sakit, lembaga riset, dan organisasi mitra kesehatan diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dan berkelanjutan dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia kesehatan serta mutu pelayanan bagi masyarakat Merauke dan Papua Selatan.(Get)








0 Komentar
Komentar tidak ada