Merauke - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Anggota Komisi IV DPR RI, H. Sulaeman L. Hamzah menggelar bimbingan teknis (Bimtek) kewirausahaan dan akses permodalan bagi pelaku UMKM di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, Senin, (2/11/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Rumah Aspirasi H. Sulaeman L. Hamzah, Kelurahan Karang Indah, Kabupaten Merauke, tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas kewirausahaan sekaligus memperluas akses permodalan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di sektor kelautan dan perikanan.
Direktur Pemberdayaan Usaha pada Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP RI, Ali Rahmat Imam Santoso, dalam sambutannya via zoom menyampaikan bahwa pembangunan sektor kelautan dan perikanan diarahkan melalui berbagai program yang berlandaskan prinsip ekonomi biru.

Prinsip ekonomi biru dikatakan mencakup pembangunan berkelanjutan, perlindungan laut beserta sumber dayanya, serta pengurangan tekanan terhadap ekosistem laut akibat aktivitas perikanan yang tidak bertanggung jawab.
"Upaya tersebut dilakukan untuk mendukung penyediaan pangan biru, mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menjaga kelestarian sumber daya kelautan dan perikanan," ucapnya.
Ali menjelaskan, KKP telah menetapkan sejumlah program prioritas nasional periode 2025–2029. Program tersebut meliputi pembangunan kampung nelayan kreatif di 50 lokasi, pembangunan kawasan terintegrasi di Wakatobi, pengembangan budi daya ikan darat tematik di 40 ribu lokasi, modernisasi 5.520 unit kapal perikanan, serta pembangunan kawasan sentra industri garam nasional seluas 20 ribu hektare untuk mendukung swasembada garam.

Program-program tersebut diharapkan dapat memperkuat sektor kelautan dan perikanan, meningkatkan produktivitas, serta membuka peluang usaha yang lebih luas bagi masyarakat.
Ali menyampaikan bahwa KKP pada 2026 menargetkan produksi perikanan sebesar 25,85 juta ton, produksi garam nasional 2,5 juta ton, konsumsi ikan sebesar 26,5 kilogram per kapita per tahun, serta ekspor hasil perikanan senilai 6,2 miliar dolar Amerika Serikat.
Menurutnya, pencapaian target tersebut membutuhkan kontribusi seluruh pemangku kepentingan, termasuk pelaku UMKM yang bergerak di sektor kelautan dan perikanan.
"Pelaku UMKM memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian, mulai dari nelayan, pembudi daya ikan, pengolah hasil perikanan, pengusaha rumah makan, hingga petambak garam," ujarnya.

Karena itu, dukungan pemerintah melalui kebijakan afirmatif dan program pemberdayaan diperlukan agar pelaku UMKM mampu meningkatkan kapasitas usaha serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun, lanjut Ali, pengembangan UMKM di sektor kelautan dan perikanan masih menghadapi sejumlah tantangan. Beberapa di antaranya berkaitan dengan akses pembiayaan, produksi dan teknologi, manajemen usaha, sistem informasi dan akses pasar, mutu serta jaminan keamanan pangan, hingga persoalan logistik.
Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, diperlukan sinergi antara pemerintah, legislatif, lembaga pembiayaan, dan pelaku usaha agar pengembangan UMKM dapat berjalan lebih optimal.
Melalui kegiatan sosialisasi dan bimtek kewirausahaan serta akses pembiayaan ini, KKP bersama Komisi IV DPR RI berharap para peserta memperoleh pemahaman dan pengetahuan yang dapat diterapkan dalam mengembangkan usaha.
Kegiatan tersebut juga diharapkan menjadi salah satu upaya mendorong peningkatan kelas usaha, memperluas akses permodalan, serta memperkuat daya saing produk kelautan dan perikanan di Kabupaten Merauke.
"Dengan dukungan yang tepat, pelaku UMKM diharapkan mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat."
Wakil Bupati Merauke, Fauzan Nihayah sekaligus Direktur Rumah Aspirasi H. Sulaeman Hamzah mengatakan, banyaknya potensi alam yang dimiliki di Kabupaten Merauke khususnya di bidang perikanan, tentu sangat dibutuhkan inovasi serta kreativitas SDM untuk mengolah hasil perikanan.
Mewakili bupati dan masyarakat Kabupaten Merauke, Fauzun menyampaikan apresiasi dan terimaksih kepada Anggota Komisi IV DPR RI H. Sulaeman Hamzah atas Bimtek yang diselenggarakan tersebut.
"Sehingga para pelaku UMKM di bidang perikanan, terutama ibu-ibu rumah tangga yang biasa membuat nuget atau bakso ikan bisa meningkatkan wirausahanya dan mengetahui akses permodalan terutama bagaimana produk yang dihasilkan bisa dipasarkan dengan baik," ucap Fauzun.
Anggota Komisi IV DPR RI, H. Sulaeman L. Hamzah kesempatan tersebut menyampaikan, Bimtek kali ini akan mendorong pelaku UMKM lebih berinovasi untuk mengisi peluang pasar yang ada.

"Karena sesuatu yang kita hasilkan kalau tidak laku di pasar, itu mubazir. Apalagi kita dibebani dengan kredit di bank, sementara hasil tidak terjual, pasti macet. Ini tantangan yang kita harus persiapkan dengan baik," ujarnya.
Hasil usaha, lanjut Sulaeman tidak hanya ditentukan pada cita rasa tetapi juga dilihat dari kualitas dan kemasan produk. Kemasan yang bagus menjadi daya tarik untuk menarik minat konsumen. Untuk itu, Kementrian Kelautan dan Perikanan sangat peduli untuk mendorong masyarakat pelaku UMKM terus maju meski dalam keterbatasan kemampuan anggaran.
"Kami tetap kawal melalui aspirasi atau jalur reguler yang diusulkan. Untuk tahun ini kita ada bantuan cool box, fresher dan mesin untuk mengolah bakso bagi pelaku yang layak menerima," sebut Sulaeman.
Ssbelumnya, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Merauke, Leonard Herman Fransiskus Rumbekwan menuturkan, bahwa pihaknya telah melakukan beberapa kegiatan melalui pendampingan, pembinaan serta pemberdayaan kepada para pelaku usaha, hanya masih terkendala dari kewirausahan, karena yang dibutuhkan adalah kemandirian dari para pelaku usaha perikanan.
Selain itu, pihaknya telah berupaya dengan melakukan kerjasama dengan beberapa dinas untuk coba membuka jalur akses pasar terkait produk unggulan daerah ke perusahan-perusahan yang ada di Merauke.
"Kalau kita dorong usaha namun belum memberikan akses pasar, itu juga menjadi masalah," ujarnya.
Baca Juga: Dekranasda Merauke Dorong Mama OAP Kembangkan Kerajinan dan Perluas Pemasaran
Kendala berikut kata Rumbekwan ada pada capaian hasil produksi yang tidak mampu menjawab permintaan pasar. Kemampuan produksi hanya 100 kg per bulan, sedangkan permintaan pasar melebihi hasil produksi hingga mencapai 400-500 kg perbulan. Hal ini masih menjadi tantangan tersendiri dan diharapkan dari waktu ke waktu akan ada perubahan yang dapat menjawab kemampuan produksi dan kebutuhan permintaan pasar.(Get)








0 Komentar
Komentar tidak ada