Merauke - Umat Katolik di seluruh dunia mengawali masa pra paskah atau masa tobat dengan mengoles abu pada dahi setiap Rabu Abu.
Abu yang dipakai adalah abu sisa bakaran daun palem yang digunakan pada Minggu palem tahun sebelumnya, dibakar dan dipakai abunya untuk dioles di dahi umat Katolik dilakukan iman atau petugas pembantu.
Makna dari Rabu Abu atau masa pra paskah tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut;
Pertama, abu mengindikasikan dengan sangat jelas bahwa semua orang atau manusia diciptakan Allah dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Maka selama 40 hari di masa tobat dan puasa ini, semua umat Katolik diantar dan disadarkan kembali bahwa suatu saat semua akan kembali menjadi debu tanah.
Kedua, abu yang dioleskan dalam bentuk tanda salib untuk mengingatkan umat Katolik bahwa setiap orang tidak luput dari salah dan dosa. Sehingga 40 hari ke depan, menyadari sebagai manusia lemah berjuang dalam mengendalikan atau pengendalian diri, introspeksi atas semua perbuatan jahat atau dosa yang harus dihindari dan benar-benar bertobat serta tidak mengulangi.
Ketiga, masa tobat ini juga menjadi masa refleksi panjang atau ret ret agung. Orang Katolik harus menyadari relasi atau hubungannya dengan Tuhan dan sesama, segeralah berdamai dan saling memaafkan.
"Sehingga mereka yang selama ini malas-malas berdoa, tidak punya waktu ke gereja dan mengikuti kegiatan rohani, baiklah masa refleksi selama 40 hari ini disadari kembali dan memberi ruang dan waktu untuk membangun hubungan dengan Allah akibat dosa-dosa dan juga berdamai dengan sesama," ujar Pastor Paroki Bambu Pemali Merauke, Pastor Simson Walewawan, Pr, Rabu, (18/2/2016) di Pastoral Bampel.
Makna keempat, adalah masa untuk berbagi dengan sesama meski dalam kekurangan tetapi juga melihat sesama yang jauh lebih susah atau berkekurangan. Maka dalam masa ini selalu ada aksi puasa dan aksi pembangunan dengan cara mengurangi porsi makan sehari-hari untuk menyisihkan kepada mereka yang membutuhkan. Selain itu, puasa bisa menyehatkan tubuh manusia dari sakit penyakit yang diakibatkan dari makan minum yang berlebihan dan tidak sehat.
Baca Juga: Gubernur Apolo Bersama Sekda Ferdinandus Hadiri Perayaan Tahun Baru Imlek
Pastor Sanny, sapaan sehari-hari menegaskan kembali tiga hal penting yang harus dimaknai, adalah bagaimana kita membangun kembali relasi dengan Tuhan, relasi dengan sesama manusia dan pengendalian diri dari semua hal yang membuat kita jatuh dalam dosa.(Get)








0 Komentar
Komentar tidak ada