Berita Utama

Uskup Mandagi Letakkan Batu Pertama Pembangunan Patung Hati Kudus Yesus di Yonggo-Kali Maro

Merauke - Uskup Keuskupan Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC, meletakkan batu pertama pembangunan Patung Hati Kudus Yesus di Dusun Yonggo, Kampung Urumb-Kali Maro, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Sabtu, (4/7/2026).

Prosesi peletakan batu pertama diawali dengan Ibadat Sabda yang dipimpin Mgr. Petrus Canisius Mandagi bersama Pastor Andreas Fanumbi, MSC, dan Pastor Roy Sugiyanto, Pr. Kegiatan tersebut dihadiri umat Paroki Bunda Hati Kudus Wendu, para imam, biarawan-biarawati, serta tamu undangan TNI dan Polri.

Patung Hati Kudus Yesus yang direncanakan memiliki tinggi sekitar 26 meter itu diharapkan menjadi simbol perdamaian sekaligus berkembang sebagai destinasi wisata rohani dan pusat doa bagi umat Kristiani di Tanah Papua.

Dalam homilinya, Uskup Mandagi menegaskan bahwa patung bukanlah objek penyembahan, melainkan sarana yang membantu umat mengarahkan doa kepada Allah.

"Patung hanya menjadi media untuk berdoa kepada Allah. Melalui kehadirannya, orang diajak menjadi pribadi yang tekun berdoa. Sekarang ini banyak orang mulai lupa berdoa," ujarnya.

Ia menjelaskan, patung juga menjadi lambang keteguhan iman pengikut Kristus. Sebagaimana sebuah patung berdiri kokoh di atas fondasi yang kuat, demikian pula kehidupan orang beriman harus berakar pada Kristus.

"Fondasi kehidupan kita adalah Kristus. Siapa yang hidup dalam Kristus akan kuat, sedangkan di luar Dia kita akan kehilangan arah kehidupan," katanya.

Menurut Uskup Mandagi, kehadiran Patung Hati Kudus Yesus diharapkan memperkuat kehidupan iman masyarakat serta mengajak umat meneladani kasih, kerendahan hati, dan kepedulian Yesus kepada sesama. Ia juga mengingatkan pentingnya hidup dalam semangat pengampunan. "Pengampunan berada di atas segala-galanya. Pengampunan adalah obat yang menyembuhkan," tegasnya.

Sementara itu, Pastor Paroki Bunda Hati Kudus Wendu, Pastor Andreas Fanumbi, MSC, mengatakan pembangunan Patung Hati Kudus Yesus merupakan simbol pewartaan damai bagi seluruh Tanah Papua. Gagasan tersebut, katanya, berawal dari pengalaman rohani yang ia alami sekitar 30 tahun lalu saat melayani sebagai Pastor Paroki Bupul di wilayah perbatasan Indonesia-Papua Nugini.

Ia mengenang situasi keamanan di Papua pada pertengahan 1990-an yang diwarnai berbagai aksi kekerasan, mulai dari penembakan hingga pembunuhan.

"Dalam situasi itu, Tuhan berbicara kepada saya bahwa kita harus membawa damai," ujarnya.

Panggilan tersebut kemudian diwujudkan melalui pembangunan Patung Kristus Raja di Kampung Poo, Bupul, pada 1996. Kini, setelah kembali melayani di Merauke, ia merasa kembali dipanggil untuk menghadirkan simbol perdamaian melalui pembangunan Patung Hati Kudus Yesus.

Menurutnya, berbagai tindak kekerasan yang masih terjadi di Tanah Papua menunjukkan pentingnya menghadirkan pesan damai di tengah masyarakat.

"Inti pembangunan patung ini adalah mewartakan damai mulai dari Papua Selatan hingga ke seluruh Tanah Papua. Damai di hati, damai dalam pikiran, damai dalam keluarga, dan damai bagi kita semua," katanya.

Patung tersebut direncanakan dibangun langsung di lokasi dengan waktu pengerjaan sekitar satu setengah hingga dua tahun. Seluruh proses pembangunan akan melibatkan tenaga kerja asli Papua, termasuk pematung putra daerah.

Pastor Andreas menyebut kebutuhan anggaran pembangunan mencapai sekitar Rp30,7 miliar. Meski demikian, ia optimis proyek tersebut dapat terwujud karena dukungan dan sumbangan dari berbagai pihak mulai berdatangan.

"Kita percaya kepada Tuhan. Siapa yang meminta akan diberi, siapa yang mencari akan mendapat. Bantuan sudah mulai masuk, dan saya berharap seluruh umat Katolik, para imam, pemerintah, TNI-Polri, serta seluruh elemen masyarakat dapat ikut ambil bagian dalam pembangunan ini," ujarnya.

Ia berharap Patung Hati Kudus Yesus nantinya tidak hanya menjadi bangunan monumental, tetapi juga menjadi simbol persatuan, harapan, dan perdamaian bagi seluruh masyarakat di Tanah Papua.

Baca Juga: Tujuh ABK KM Sinar Bahari 55 Dipulangkan dari PNG, Satu Tiba lebih Dulu di Merauke

Usai peletakan batu pertama, Uskup Mandagi melakukan penanaman tanaman hias dan sagu di area yang akan didirikan patung Hati Kudus Yesus. Seluruh rangkaian diakhiri dengan santap siang bersama.(Get)