Merauke – Rumah Singgah Fauzun Nihayah bekerja sama dengan Yayasan Golden Generation South Papua mendampingi anak-anak putus sekolah serta anak-anak yang mengalami ketergantungan zat adiktif, khususnya lem aibon dan bensin.
Program pendampingan tersebut merupakan bagian dari kepedulian terhadap anak-anak yang selama ini banyak ditemukan berada di jalanan dan di sejumlah titik di Kota Merauke.
Wakil Bupati Merauke, Fauzun Nihayah mengatakan, upaya pendampingan terhadap anak-anak korban zat adiktif telah dilakukan sejak 2018, jauh sebelum dirinya menjadi anggota DPRD. Menurutnya, persoalan tersebut membutuhkan perhatian serius karena masih banyak anak yang tidak bersekolah dan mengalami ketergantungan aibon.
“Sejak 2018 kami sudah melakukan pendampingan. Sebelum saya menjadi anggota dewan, saya sudah tangani persoalan ini,” ujarnya saat peresmian Rumah Singgah Fauzun Nihayah South Papua Golden Generation di daerah Gudang Arang Merauke, Jumat, (21/8/2026) sore.

Ia mengungkapkan, dalam menjalankan pendampingan, pihaknya masih menghadapi berbagai keterbatasan, terutama fasilitas dan anggaran. Penanganan anak-anak tersebut membutuhkan biaya, termasuk untuk memenuhi kebutuhan makan dan pendampingan sehari-hari.
Kondisi tersebut mendorong dirinya kembali berdiskusi dengan Pendeta Regina Sawbra dan teman-teman GAMKI untuk melanjutkan pendampingan yang sempat mengalami keterbatasan.
Menurutnya, hingga kini masih banyak anak yang sangat bergantung pada aibon. Bahkan, terdapat anak yang ditemukan masih kecil pada 2018 dan hingga kini telah dewasa namun masih menghirup aibon serta tidak bersekolah.
Anak-anak tersebut, kata dia, kerap ditemukan di sejumlah lokasi, seperti Lapangan Maro, Katalpal, kawasan Libra hingga sekitar Kapsul Waktu.
Berangkat dari kondisi tersebut, Rumah Singgah Fauzun Nihayah kemudian memanfaatkan sebuah tempat yang sebelumnya dalam kondisi rusak parah. Tempat tersebut diperbaiki menggunakan dana pribadi sebagai upaya menyediakan ruang bagi anak-anak untuk mendapatkan pendampingan.
Ia berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dapat memberikan dukungan melalui program yang dapat membantu penanganan anak-anak tersebut.
“Bagaimana menjaga anak-anak kita sebagai generasi emas, kita betul-betul dampingi dengan baik,” katanya.
Sementara itu, Pendeta Regina Suabra mengatakan, kegiatan sosial tersebut telah dilakukannya sejak 2018. Dikatakan, upaya menyelamatkan anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus merupakan panggilan sosial yang harus dilakukan secara bersama-sama.
Perjalanan panjang tersebut kemudian berkembang dari sebuah komunitas kecil hingga menjadi yayasan. Dalam prosesnya, mereka juga mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerhati anak dan organisasi kepemudaan.
Regina menegaskan, pembentukan karakter anak Papua tidak dapat dilakukan hanya oleh satu atau dua orang. Dibutuhkan kolaborasi banyak pihak agar pendampingan dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Untuk membentuk karakter, apalagi karakter anak Papua, memang perlu banyak orang,” ujarnya.
Saat ini, kolaborasi pendampingan melibatkan GAMKI bersama sejumlah organisasi, di antaranya PMI, HMI, GMNI dan PMKRI. Mereka diharapkan dapat bersama-sama memperkuat program pendampingan, termasuk memberikan pendidikan kepada anak-anak.
Nama Golden Generation South Papua dipilih sebagai motivasi bahwa anak-anak tersebut merupakan generasi emas yang harus diselamatkan dan dipersiapkan untuk memiliki masa depan yang lebih baik.
Regina menyebutkan, sejak pendampingan dimulai pada 2018, sudah terdapat sejumlah anak yang mengalami perubahan positif. Beberapa di antaranya bahkan telah berhasil keluar dari ketergantungan.
Meski demikian, masih terdapat anak-anak yang sejak kecil hingga dewasa belum berhasil lepas dari ketergantungan aibon.
Menurut Regina, salah satu perkembangan positif adalah meningkatnya kepercayaan anak-anak kepada para pendamping.
Mereka yang sebelumnya takut ketika aibon diambil, kini justru bersedia menyerahkannya kepada pendamping.
“Mereka memang lebih terbuka kepada kami. Ketika mereka melihat kami, mereka menjadi jujur dan langsung menyerahkan lemnya. Itu sisi positif yang luar biasa,” ujar Regina.
Ia meyakini perubahan dapat terjadi apabila anak-anak terus didampingi dan diperlakukan sebagai sahabat. Karena itu, pihaknya tidak hanya berupaya menghentikan kebiasaan menghirup aibon, tetapi juga membangun hubungan yang membuat anak-anak merasa diperhatikan dan diterima.
Sementara itu, kembali Fauzun menambahkan, bahwa untuk mendukung proses tersebut, kegiatan pembinaan pendidikan dilaksanakan dua kali dalam sepekan, yakni setiap Senin dan Jumat.
Hari Senin difokuskan pada penguatan moral, mental, karakter dan keagamaan dengan melibatkan pendeta maupun pastor. Sementara hari Jumat, anak-anak mengikuti pembelajaran selama tiga jam yang diarahkan pada kemampuan membaca, menulis dan penguatan akademik.
Saat ini tercatat sekitar 150 anak yang menjadi sasaran pembinaan. Jumlah tersebut sebelumnya sempat mencapai sekitar 180 anak, namun sebagian di antaranya telah mengalami perubahan kehidupan, termasuk menikah.
Pendampingan lanjut Fauzun, difokuskan kepada anak-anak putus sekolah serta mereka yang mengalami ketergantungan lem aibon dan bensin.
Fauzun Nihayah yang sedang menjabat sebagai Wakil Bupati Merauke saat ini juga menceritakan awal mula dirinya terlibat dalam pendampingan anak-anak korban aibon. Pada 2018, ketika berada di Merauke, ia menemukan sekitar 15 anak berada di depan rumah Aspirasi H. Sulaiman L. Hamzah sekitar pukul 02.00 WIT dan sedang menghirup aibon.

Saat melihat dirinya, anak-anak tersebut justru meminta makanan karena mengaku belum makan sejak pagi.
Ibarat anak yang sedang meminta makan kepada ibunya, Fauzun pun tergerak hati kemudian memberikan makanan yang dibawanya, mengajak mereka duduk dan berbicara, serta menanyakan kondisi dan tempat tinggal mereka. Setelah itu, anak-anak tersebut mulai sering datang ke rumah tersebut dan mengatakan bahwa mereka sudah tidak menghirup aibon.
Pengalaman tersebut menjadi titik awal semakin seriusnya Fauzun mendampingi anak-anak yang mengalami ketergantungan aibon. Dukungan suami juga menjadi salah satu alasan dirinya kemudian memilih mengabdikan diri untuk membantu anak-anak di Merauke.
Ia menilai anak-anak tersebut membutuhkan sosok yang dapat memberikan perhatian, kasih sayang dan pendampingan secara konsisten.
Karena itu, Rumah Singgah Fauzun Nihayah dan Yayasan Golden Generation South Papua mengajak masyarakat serta berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap anak untuk ikut berkolaborasi.
Masyarakat yang menemukan anak-anak dalam kondisi ketergantungan aibon maupun bensin dapat melaporkannya kepada tim pendamping agar dapat dilakukan pendekatan dan pembinaan.
Baca Juga: Penetapan Tersangka MRP Kasus Kematian Anak di Merauke Berdasarkan Bukti yang Sah
“Persoalan ini adalah persoalan kita bersama. Kami mengajak siapa pun yang terpanggil untuk bekerja sama dengan kami,” pungkasnya.(Get)








0 Komentar
Komentar tidak ada