Merauke - Ketika menghadiri HUT ke-171 tahun Pekabaran Injil di Tanah Papua, Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze menekankan pertobatan sebagaimana tema yang diusung tahun ini "Pertobatan Mendatangkan Keselamatan."
Perayaan ini merupakan momentum iman yang sangat bermakna untuk mengenang karya penyertaan Tuhan melalui masuk dan bertumbuhnya Injil di Tanah Papua serta dampaknya bagi kehidupan gereja, masyarakat dan seluruh ciptaan.
Dikatakan, ketika umat Allah mencintai Tuhan Allahnya dengan segenap hati dan jiwa maka mereka harus bertobat menjadi orang-orang yang akan menghadirkan kesejahteraan, harapan bagi banyak orang di tanah Papua baik di lingkungan gereja, pemerintahan serta dalam semua dinamika pembangunan.
"Saya berharap melalui peringatan HUT Pekabaran Injil ini dengan tema yang sangat luar biasa bahwa kita semua harus mengawali dengan sebuah pertobatan. Kalau Kita bisa awali dengan pertobatan saya pikir Tuhan maha pengampun dan setiap rencana serta karya kita akan bisa berjalan dengan baik," ucap Yoseph Gebze di Gereja GKI Euangelion Merauke, Kamis, (5/2/2026) sekaligus peletakan batu pertama pembangunan gedung sekolah Minggu Jemaat Euangelion.

Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze hadiri HUT ke-171 Pekabaran Injil di Tanah Papua sekaligus peletakan batu pertama pembangunan gedung sekolah minggu Jemaat Euangelion.
Sebelumnya, Badan Pekerja Sinode Wilayah IX Pdt. Jimmy Mosse membacakan sambutan ketua Sinode Wilayah IX mengatakan, tema Pertobatan Mendatangkan Keselamatan ini mengajak jemaat untuk menilai diri dan zaman yang sedang dijalani saat ini. Dikatakan bahwa tanah Papua saat ini sedang tidak baik-baik saja. Ada luka akibat kekerasan, dan konflik yang berkepanjangan. Tangisan para pengungsi, kecemasan anak-anak yang kehilangan rasa aman serta jeritan bumi Papua yang terus dieksploitasi.
Dalam tema HUT Pekabaran Injil di Tanah Papua mengandung dua makna penting untuk belajar sejarah di tanah Papua yakni motivasi dan tujuan pekabaran injil adalah supaya bangsa Papua bertobat demi memperoleh keselamatan. Pertama, pertobatan yang dimaksudkan ini bukan saja sebuah peristiwa masa lampau tetapi juga harus menjadi peristiwa masa kini. Kedua, dalam konteks masa kini pertobatan itu harus diterjemahkan di dalam berbagai aspek kehidupan spiritual, sosial, budaya, ekonomi dan ekologi.
Baca Juga: Ramai Peserta PBI Dinonaktifkan, Ini Tanggapan BPJS Kesehatan
"Dalam situasi seperti ini, pertobatan menjadi seruan profetik Allah bagi gereja dan bangsa Papua. Pertobatan bukan hanya soal relasi pribadi dengan Tuhan tetapi juga dengan keberanian mengubah cara hidup, cara berpikir dan cara kita memperlakukan sesama dan alam ciptaan-Nya," ucapnya.(Get)








0 Komentar
Komentar tidak ada